Thucydides’s Trap

Oleh Mattewakkan

Esai4 Views

Dua ribu empat ratus tahun lalu, ada perang antara Sparta dan Athena, namanya Perang Peloponnesia. Sparta memenangkan perang setelah menghancurkan armada laut Athena, mengakhiri “Zaman Keemasan” Athena.

Thucydides mencatat dalam History of the Peloponnesian War bahwa perang itu bukan soal konflik wilayah. Athena berkembang terlalu cepat, Sparta melihat masa depannya sendiri menggelap, dan dari ketakutan itu, perang menjadi terasa tak terelakkan.

Para ilmuwan politik kemudian memberi nama pada pola ini: Thucydides’s Trap. Ketika kekuatan yang bangkit mulai mengancam posisi kekuatan dominan, konflik hampir selalu mengintai di ujung jalan.

Graham Allison memperkenalkan kembali konsep ini dalam Destined for War (2017), menunjuk langsung pada satu rivalitas: Amerika Serikat dan Tiongkok. Dari 16 kasus serupa yang ia teliti, 12 berakhir dengan perang.

Selama beberapa dekade, Tiongkok tumbuh dengan kecepatan yang membuat Washington gelisah. Belt and Road Initiative (BRI) menyebar ke Afrika, Asia Tengah, dan Amerika Latin. Perang dagang 2018 menjadi konfrontasi paling terbuka: tarif ratusan miliar dolar saling dilempar, rantai pasok global terguncang. Huawei diblokir, akses ke chip semikonduktor canggih dipotong. Aliansi AUKUS terbentuk sebagai respons terhadap kebangkitan militer Tiongkok di Indo-Pasifik.

Lalu Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari 2026, eskalasi paling dramatis di kawasan itu dalam beberapa dekade. Perang ini menjadi panggung baru, sekaligus laboratorium, bagi persaingan AS-Tiongkok.

Rudal Iran tiba-tiba jauh lebih akurat dari sebelumnya: BeiDou, sistem navigasi satelit militer Tiongkok, diduga menggantikan GPS sebagai tulang punggung panduan rudal Teheran, membuat sistem jamming Israel tak lagi efektif.

Di sisi lain, AI memampatkan rantai penargetan AS dari hitungan hari menjadi detik. Beijing memanen data performa dari kedua sisi secara real time—untuk satu skenario yang sesungguhnya mereka khawatirkan: Taiwan.

Washington membaca semua ini. Sejak April 2024, sistem rudal Typhon telah ditempatkan di Luzon Utara, Filipina—dipersenjatai Tomahawk dan SM-6, dengan jangkauan hingga pesisir Tiongkok daratan.

Ketika kecurigaan meninggi, tindakan defensif satu pihak selalu terbaca sebagai ancaman oleh pihak lain. Dukungan teknologi Beijing ke Iran terlihat seperti provokasi dari mata Washington. Rudal di Luzon seperti ancaman eksistensial bagi Beijing. Keduanya tidak sepenuhnya salah, justru itulah yang membuatnya berbahaya.

Thucydides’s Trap bukan sekadar konsep politik. Ia cermin—yang menunjukkan bahwa meski peradaban kita sudah semaju sekarang, namun hasrat untuk tidak tersaingi masih tetap aktual.

Makassar, 8 April 2026