“Tak ada yang begitu ampuh merampas daya nalar manusia selain ketakutan,” tulis filsuf Edmund Burke.
Film The Lives of Others (2006) mengingatkan kita pada Berlin Timur di bawah bayang-bayang dinas rahasia Stasi. Di sana, negara bukan cuma hadir; ia juga menguping untuk menundukkan warganya.
Sejarah juga mencatat skandal Watergate di era 1970-an. Saat itu, instrumen intelijen dipakai oleh Presiden Richard Nixon untuk menelanjangi kubu lawan.
Namun, bagaimana jika pakem sejarah itu dibalik? Bagaimana jika alat sadap tidak dipakai penguasa untuk menembak lawan, tetapi justru diarahkan ke jantung kekuasaan itu sendiri?
Tanggal 3 November 2026 mengejutkan kita dengan sebuah ironi. Listyo Sigit Prabowo, mantan Kapolri, ditangkap bersama sejumlah jenderal yang menjadi kaki tangannya atas dugaan memimpin penyadapan besar-besaran. Komplotan ini bukan membungkam lawan politik pemerintah, melainkan mengawasi sang penguasa beserta simpul-simpul penting Republik.
Belakangan, terkuaklah sebuah senarai panjang: ada 6.000 target yang diam-diam diawasi. Daftar hasil penyidikan itu merekam percakapan para pejabat tinggi, politikus, pengusaha, aktivis, hingga jurnalis. Dan jaring itu ternyata ikut menangkap suara Presiden.
Seorang kepala negara—yang seharusnya menjadi pengguna akhir dan tunggal (end user dan single user) dari semua keping data intelijen—justru berbalik menjadi target penyadapan.
Dalam kejanggalan ini, tidak adanya nama-nama tokoh tertentu dari daftar target makin menegaskan satu hal: penyadapan ini sama sekali bukan untuk menjaga keamanan negara. Alat negara telah dibajak menjadi operasi politik sebuah faksi rahasia.
Ketika aparat negara menargetkan presidennya sendiri, tujuannya hanya satu: mencari kelemahan untuk dijadikan bahan sanderaan (kompromat). Data sadapan sebanyak ini tidak dikumpulkan untuk dibawa ke pengadilan, tetapi untuk teruskan ke pemberi perintah yaitu faksi politik rahasianya.
Kesetiaan tak lagi dibeli, tetapi dikunci lewat ancaman yang tak pernah diucapkan secara terbuka. Siapa pun yang memegang rahasia 6.000 tokoh kunci ini, praktis menggenggam arah politik bangsa tanpa perlu repot-repot memenangi pemilu. Mereka bisa mendikte keputusan penting negara hanya dengan ancaman membongkar aib.
Sadar ada pihak yang memegang kartu mati mereka, para elite politik akan kehilangan nyali. Suara kritis akan mati, digantikan oleh gema ketakutan massal.
Peristiwa ini adalah alarm yang keras. Tanpa izin pengadilan berlapis, pengawasan lembaga independen, dan batas aturan yang ketat, tangan-tangan seperti mereka akan selalu tergoda untuk berhenti mengabdi pada negara, lalu memilih menjadi pembajak demokrasi itu sendiri.
Makassar, 6 Nopember 2026










