Pemilu Israel

Oleh Mattewakkan

Selasa pagi, 27 Oktober 2026. Baru pukul sepuluh, lebih dari 1,2 juta warga Israel sudah mencoblos—partisipasi pagi tertinggi dalam beberapa dekade. Di luar TPS, 22.000 polisi bersiaga mengantisipasi kerusuhan yang belum tentu pecah.

Ini pemilu pertama sejak perang 7 Oktober 2023 pecah. Sebanyak 37 daftar partai memperebutkan 120 kursi Knesset, dengan bursa perdana menteri mengerucut pada tiga nama: Benjamin Netanyahu, Gadi Eisenkot, dan Naftali Bennett.

Namun, setelah hampir tiga tahun perang merentang dari Gaza, Lebanon, hingga Iran, ini sejatinya hari perhitungan bagi Netanyahu.

Survei Institut Demokrasi Israel mencatat 92 persen responden Yahudi puas pada tentara, tapi hanya 38 persen percaya pada pemerintah. Keluarga korban belum melupakan penolakan Netanyahu atas komisi penyelidikan 7 Oktober.

Kelas menengah juga berang soal wajib militer. Saat tentara cadangan terus ditarik ke medan perang, komunitas Haredi tetap bebas tugas dan anggaran sekolah agama justru naik. Sekitar 250.000 warga—kebanyakan pekerja teknologi—memilih hengkang dari Israel.

Di atas kertas, Gadi Eisenkot unggul. Partai Yashar! diproyeksikan meraih 20–26 kursi, mengungguli Likud (18–21 kursi). Gugurnya putra bungsu Eisenkot di Gaza membuat serangan politik kubu kanan tumpul terhadapnya.

Sayangnya, rata-rata survei hanya memberi blok Eisenkot 50 kursi dan blok Netanyahu 49, jauh dari syarat mayoritas 61 kursi. Eisenkot menolak partai Arab Ra’am masuk kabinet, meski Ahmad Tibi (Joint List) menawarkan dukungan dari luar asal penggusuran di Negev dihentikan.

Situasi ini menguntungkan Netanyahu. Koalisi Likud, Haredi, dan sayap kanan jauh saling mengunci. Asal lawan tak mencapai 61 kursi, Netanyahu tetap berkuasa sebagai perdana menteri transisi.

Di sisi lain, peleburan partai Bennett dan Yair Lapid (Beyachad) gagal total. Proyeksinya anjlok dari 25 ke 12 kursi akibat ditinggal pemilih kanan dan tokoh poros tengah.

Kunci terakhir ada pada partai gurem Ofer Winter dan Yoaz Hendel yang menggantung di ambang batas 3,25 persen. Nasib empat kursi mereka bisa menjungkirbalikkan peta koalisi.

Bagi Palestina, siapa pun pemenangnya, kemerdekaan tetap tertutup. Netanyahu akan mempertahankan kontrol militer permanen di Gaza dan perluasan permukiman di Tepi Barat.

Sebaliknya, Eisenkot lebih pragmatis: menggandeng negara Arab moderat dan AS untuk mengelola Gaza agar militer Israel tak terjebak pendudukan permanen. Adapun Bennett-Lapid menawarkan kelonggaran ekonomi tanpa kedaulatan politik.

Peluang Eisenkot membentuk pemerintahan hanya 35 persen—sama besarnya dengan potensi pemilu ulang pada pertengahan 2027. Terlalu spekulatif menebak pemenang.

Hasil resmi baru keluar 4 November, menunggu verifikasi ratusan ribu surat suara milik tentara di garis depan dan warga di luar domisili.

Kita tunggu saja.

Makassar, 27 Oktober 2026