Gempa Magnitudo 6,7 di Palu Mengakibatkan Satu Warga Meninggal Dunia

Berita2 Views

PALU, PILARIS.ID — Peristiwa gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Kota Palu, Sulawesi Tengah, dilaporkan menelan korban jiwa. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi satu warga meninggal dunia di Kabupaten Sigi akibat dampak guncangan yang terjadi pada Selasa (16/6/2026) tersebut.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa proses pendataan darurat hingga kini masih terus berjalan secara intensif di lapangan. Guncangan kuat ini berdampak pada sejumlah wilayah administrasi, meliputi Kota Palu, Kabupaten Sigi, Kabupaten Parigi Moutong, hingga Kabupaten Poso.

Berdasarkan data taktis sementara, total warga yang terdampak guncangan ini mencapai 110 kepala keluarga atau sekitar 312 jiwa. Di samping korban meninggal dunia, tercatat sebanyak 13 warga mengalami luka berat dan 25 warga lainnya menderita luka ringan yang kini sedang mendapatkan perawatan medis.

Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak kerusakan paling signifikan dengan total warga terdampak mencapai 89 kepala keluarga atau 272 jiwa. Sebanyak 12 unit rumah dilaporkan rusak berat, enam unit rusak sedang, dan 23 unit mengalami rusak ringan di daerah tersebut.

Secara keseluruhan, gempa bumi ini merusak sedikitnya 67 unit rumah warga di seluruh wilayah terdampak. Kerusakan fasilitas publik juga tidak terhindarkan, meliputi enam rumah ibadah, dua jembatan, satu fasilitas umum, dua gedung perkantoran, tiga tempat usaha, serta satu ruas jalan provinsi penghubung Palu-Sigi-Poso yang mengalami amblas.

Merespons situasi darurat tersebut, Pemerintah Kabupaten Sigi saat ini tengah memproses penetapan status tanggap darurat bencana selama 14 hari ke depan. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Forkopimda setempat juga telah mendirikan pos lapangan terpadu yang dipusatkan di Kantor Camat Nokilalaki untuk mempercepat pelayanan publik.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Wijayanto, mengungkapkan bahwa hasil analisis geofisika menunjukkan aktivitas Sesar Sausu sebagai pemicu utama gempa bumi ini. Karakteristik patahan tersebut berbeda dengan aktivitas pergeseran Sesar Palu Koro yang pernah memicu bencana gempa dan tsunami besar pada tahun 2018 silam.

Pihak otoritas menegaskan bahwa Kota Palu dan sekitarnya memang dikelilingi oleh beberapa sesar aktif, termasuk Sesar Sausu, Sesar Palu Koro, dan Sesar Ampana. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang serta tidak terpengaruh oleh isu yang tidak bertanggung jawab, mengingat aktivitas gempa susulan yang terjadi cenderung memiliki magnitudo yang semakin kecil.