Telegram Berchtold

Oleh Mattewakkan

Kolom16 Views

Pukul 11.10 pagi, 28 Juli 1914, sebuah telegram terkirim dari Wina menuju Niš, Serbia.

Isinya seratus lima belas kata, dalam bahasa Prancis, satu paragraf pendek. Cukup untuk membuka gerbang pembantaian yang menelan delapan setengah juta nyawa.

Balkan sudah lama menjadi bubuk mesiu Eropa. Serbia baru saja menang perang melawan Utsmaniyah, lalu mengklaim diri sebagai pemimpin bangsa Slavia Selatan. Austria-Hongaria melihat ambisi itu sebagai ancaman bagi kekaisaran multietnisnya sendiri. Aneksasi Bosnia-Herzegovina tahun 1908 menambah persoalan.

Enam tahun kemudian, peluru Gavrilo Princip di Sarajevo pada 28 Juni membakar sumbu yang memang sudah pendek. Franz Ferdinand, putra mahkota kerajaan Austria-Hongaria, tewas. Faksi militer di Wina langsung melihat peluang. Mereka membutuhkan Jerman untuk berani bergerak.

Kaiser Wilhelm II memberi jaminan itu awal Juli. Dalam sejarah, ini terkenal sebagai “cek kosong”: dukungan penuh, tanpa syarat, tanpa batas waktu. Berbekal jaminan itu, Menteri Luar Negeri Austria Leopold von Berchtold menyusun ultimatum untuk Serbia. Ia menunggu sampai Presiden Prancis selesai kunjungan ke Rusia, agar dua sekutu itu tidak sempat berkoordinasi.

Sejarawan Christopher Clark, dalam The Sleepwalkers, menyebut para pemimpin Eropa saat itu sebagai orang-orang yang berjalan sambil tidur menuju perang, sadar akan bahaya tapi buta terhadap akibat sebenarnya dari setiap langkah yang mereka ambil. Ultimatum Wina adalah salah satu langkah tidur itu, dihitung cermat, tapi buta pada apa yang akan ia picu.

Sepuluh tuntutan diserahkan pada 23 Juli. Sembilan di antaranya diterima Serbia. Satu tuntutan, keterlibatan polisi Austria dalam penyelidikan pembunuhan Franz Ferdinand di tanah Serbia, ditolak karena melanggar kedaulatan. Jawaban itu datang begitu hati-hati sampai Kaiser sendiri menganggap alasan perang sudah hilang.

Berchtold berpikir lain. Ia butuh perang, bukan kompromi. Pada 27 Juli ia menyodorkan laporan kepada Kaisar Franz Joseph: pasukan Serbia disebut menembaki tentara Austria di Temes-Kubin. Kaisar yang lelah menandatangani deklarasi perang berdasarkan laporan itu.

Esok paginya laporan itu terbukti palsu. Tembakan di Temes-Kubin hanya panik penjaga perbatasan. Berchtold menghapus kalimat itu dari draf resmi, tapi menyembunyikan kebenarannya dari Kaisar selama dua hari lagi. Perang sudah telanjur disetujui atas dasar bohong.

Telegram nomor 3523 itu berangkat lewat jalur sipil. Kedutaan Austria di Belgrade sudah tutup, dan cara ini belum pernah dipakai untuk menyatakan perang. Pesan itu sampai ke Nikola Pašić di Niš saat makan siang. Ia berdiri, mengeluarkan kertas dari sakunya, lalu berkata bahwa kekuasaan Austria akan segera berakhir.

Malam itu juga kapal perang Bodrog membombardir Belgrade. Rusia memobilisasi, Jerman ikut bergerak, Prancis dan Inggris menyusul. Dalam waktu seminggu, krisis lokal Balkan berubah menjadi Perang Dunia I.

Empat kekaisaran besar Eropa runtuh sebelum perang ini selesai. Semua bermula dari selembar telegram yang ditulis di atas laporan yang sudah diketahui bohong sejak awal.

Semoga suatu hari tak ada lagi perang, apalagi untuk alasan-alasan yang palsu.

Makassar, 28 Juli 2026