Sepuluh tahun. Sebegitu lama waktu yang dibutuhkan Odysseus untuk pulang dari Troya ke Ithaca, padahal di atas peta jaraknya bisa ditempuh jauh lebih singkat.
Odysseus adalah pahlawan perang Troya. Dialah yang mengusulkan siasat Kuda Kayu, cara yang akhirnya menjebol pertahanan Troya setelah sepuluh tahun perang menemui jalan buntu.
Dewa-dewa punya rencana lain. Jalan pulang Odysseus berubah menjadi salah satu ujian kepemimpinan paling panjang yang pernah dituliskan manusia.
Christopher Nolan menghidupkan kembali perjalanan itu lewat The Odyssey, produksi kolosal yang digarap seluruhnya dengan kamera IMAX. Film ini membawa kisah klasik Homer ke layar lebar dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan penuh keraguan.
Matt Damon, yang memerankan Odysseus, menampilkan sosok pemimpin yang bertahan lewat kombinasi kelenturan taktis dan keteguhan moral. Ia melewati amarah para dewa, melawan monster dan penyihir hingga kehilangan seluruh pasukannya.
Dalam naskah asli Homer, di titik paling berat perjalanannya, Odysseus berbisik pada dirinya sendiri:
“Endure, my heart; you have endured worse than this.”
Baris itu muncul berkali-kali sepanjang kisah. Bukan doa kepada dewa, melainkan perintah pada diri sendiri untuk terus bertahan.
Setiap pilihan Odysseus mencerminkan beban seorang pemimpin: terus berhitung risiko, tanpa melepaskan kompas moralnya. Nolan, yang terinspirasi terjemahan Emily Wilson, menangkap sisi lelah dan bimbang Odysseus, sisi yang jarang tersentuh dalam adaptasi sebelumnya.
Kekuatan film ini juga terletak pada sisi Ithaca. Penelope (Anne Hathaway) dan Telemachus (Tom Holland) merepresentasikan resiliensi institusi.
Odysseus berjuang melawan monster laut. Penelope berjuang melawan oportunisme politik di istana. Mereka mengandalkan kesabaran dan ketenangan sebagai senjata utama, menjaga stabilitas di tengah kekosongan kekuasaan.
Ironi kepemimpinan pun muncul. Langkah yang diambil untuk menghindari takdir justru sering kali menuntun ke sana.
Bagi Nolan, resiliensi bukan soal mengalahkan takdir. Ia soal bagaimana seseorang tetap memegang kendali atas cara ia melangkah, meski tujuan akhirnya sudah ditentukan.
Pesan ini relevan dengan panggung politik kontemporer, yang penuh polycrisis. Di tengah gejolak geopolitik dan krisis ekonomi, pemimpin sering tergoda jalan pintas populisme.
Padahal kepemimpinan yang tangguh menuntut keberanian mengambil trade-off yang sulit. Ia juga menuntut keberanian menolak godaan otoriter saat negara berada dalam ketidakpastian.
Pada akhirnya, The Odyssey mengajarkan satu hal. Pertempuran terbesar pemimpin bukan melawan musuh eksternal, dan bukan pula melawan takdir.
Pertempuran itu melawan godaan untuk menyerah saat dikepung situasi. Resiliensi adalah menjaga daya tahan, merawat integritas, dan terus melangkah dengan kendali penuh — terlepas dari seberapa gelap cakrawala di depan.
Pemimpin sejati tidak membiarkan keraguan melumpuhkan tindakannya.
Makassar, 23 Juli 2026






