Lula Menang Lagi

Oleh Mattewakkan

Brasil baru saja melewati pemilihan presiden yang sengit. Negeri itu kembali terbelah antara petahana dari kubu kiri, Luiz Inácio Lula da Silva, dan penantang sayap kanan, Flávio Bolsonaro. Flávio adalah senator sekaligus putra sulung mantan presiden Jair Bolsonaro.

Kampanye berlangsung panas selama berbulan-bulan. Polarisasi menguat, kejenuhan publik meningkat, dan ketegangan bertahan hingga detik terakhir pemungutan suara.

Minggu malam, 25 Oktober, penghitungan suara sudah mencapai 100 persen. Lula meraih 51,76 persen suara, unggul atas Flávio yang memperoleh 48,24 persen. Selisihnya sekitar 4,4 juta suara. Pada usia 80 tahun, Lula bersiap menduduki kursi presiden untuk keempat kalinya.

Tiga pekan sebelumnya, peluang Lula sempat diragukan. Pada putaran pertama 4 Oktober, Flávio memimpin dengan 47,03 persen suara, sementara Lula tertahan di 45,16 persen.

Sejak Brasil menerapkan sistem dua putaran pada 1989, belum pernah ada kandidat yang tertinggal pada putaran pertama lalu membalikkan keadaan pada putaran kedua. Lula mematahkan catatan itu.
Lembaga survei kembali gigit jari. Datafolha semula memperkirakan suara Flávio mentok di angka 40 persen. Kesalahan baca serupa pernah terjadi pada 2022.

Dugaan saya, sebagian pemilih konservatif baru memantapkan pilihan pada menit-menit akhir, ketika lembaga survei tak lagi menangkap perubahan sikap mereka. Sebaliknya, sebagian pendukung Lula mungkin terlalu yakin jagoannya akan menang. Lebih dari 33 juta pemilih absen dari bilik suara.

Kekalahan di putaran pertama itu rupanya menyentak kubu Lula. Pada putaran kedua, para pendukungnya yang semula tinggal di rumah akhirnya turun ke bilik suara, ditambah limpahan suara dari pemilih moderat dan kandidat lain yang sudah tersingkir.

Jair Bolsonaro sendiri hanya mengikuti pertarungan dari jauh. Ia sedang menjalani tahanan rumah setelah divonis 27 tahun penjara dalam perkara rencana kudeta.

Flávio maju membawa nama besar ayahnya. Hasil pemilu menunjukkan bahwa merek politik Bolsonaro masih punya daya tarik. Hampir separuh pemilih kembali mendukung keluarga itu. Kini, Flávio menolak mengakui kekalahan.

Washington pun ikut mengawasi. Donald Trump hanya berkomentar pendek, “Kami sedang mengawasi.” Namun, Reuters melaporkan adanya pejabat Departemen Luar Negeri AS yang berupaya membuka jalan bagi keluarga Bolsonaro.

Dalam pidato kemenangannya, Lula langsung menyentil Washington: Brasil bukan halaman belakang siapa pun. Pesan itu punya konteks geopolitik yang jelas.

Brasil menyimpan sekitar 21 juta ton logam tanah jarang, dengan cadangan yang disebut terbesar kedua di dunia. Mineral ini penting bagi industri teknologi dan energi. Tak sulit memahami mengapa sumber daya tersebut menarik perhatian Washington.

Kemenangan Lula juga memberi harapan bagi Amazon. Sepanjang Agustus 2025 hingga Juli 2026, deforestasi menyusut 36 persen menjadi 2.874 kilometer persegi. Angka itu menjadi yang terendah sejak 2013.

Bandingkan dengan 2021, pada masa pemerintahan Jair Bolsonaro. Saat itu, luas hutan yang hilang mencapai 13.235 kilometer persegi. Kini, Lula punya kesempatan melanjutkan penurunan deforestasi dan mengejar janjinya menghentikan seluruh deforestasi ilegal pada 2030.

Namun, jalan di depan tetap terjal. Suku bunga acuan Brasil, Selic, masih bertahan di angka 15 persen, sementara oposisi konservatif menguasai Kongres. Kondisi ini bisa menyulitkan Lula menjalankan agenda ekonominya.

Ada pula persoalan yang lebih mendasar. Lula kerap tampil sebagai pembela iklim, tetapi pemerintahannya masih membuka peluang bagi pengeboran minyak baru. Sulit mendamaikan ambisi melindungi Amazon dengan keinginan memperluas eksploitasi energi fosil.

Lula akan genap berusia 81 tahun tak lama lagi. Jika ia menuntaskan masa jabatan hingga 2030, usianya akan mencapai 85 tahun. Ini mungkin menjadi panggung terakhirnya dalam politik nasional.

Selama empat dekade, ia berkali-kali menyelamatkan Partai Pekerja dari kekalahan. Kini, setelah menumbangkan klan Bolsonaro sekali lagi, Lula menghadapi satu-satunya lawan yang tak pernah bisa ia kalahkan di kotak suara: waktu.

Dan sampai detik ini, belum ada yang tahu siapa yang sanggup memegang kemudi saat ia turun nanti.

Makassar, 26 Oktober 2026