Bensin Mahal, Pemilu Mendekat

Oleh Mattewakkan

Harga bensin reguler di Amerika Serikat menyentuh 4,28 dolar AS per galon pada Oktober 2026. Angka itu melonjak dari sekitar tiga dolar dua puluh satu bulan sebelumnya. Bagi para komuter harian, selisih itu langsung menghantam dompet.

Mereka mengisi tangki, menatap angka di mesin pompa, lalu menghitung sisa uang. Dari kantong yang menipis itulah arah Pemilu Sela 3 November ikut bergerak. Pemilih menjadikannya ajang menghakimi masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.

Di atas kertas, dukungan publik kepada presiden merosot ke 38 persen. Warga lelah melihat militer Amerika terseret dalam konflik berkepanjangan di Iran. Krisis Timur Tengah itu akhirnya balik arah dan mengerek harga bahan bakar di negeri sendiri.

Di tengah himpitan itu, pemilih keturunan Hispanik dan Asia-Amerika bereaksi paling cepat. Pada 2024, banyak dari mereka memilih Trump karena berharap ekonomi rumah tangga membaik. Harapan itu kandas. Harga kebutuhan pokok terus naik.

Aparat imigrasi menggelar razia besar-besaran di jalanan. Kelompok pragmatis yang mencakup seperlima pemilih nasional ini tak lagi menunggu. Kini mereka berbalik mendukung Partai Demokrat.

Urusan perut itu bertemu kemarahan baru.

Raksasa teknologi seperti NVIDIA, Meta, dan Apple berlomba membangun pusat data kecerdasan buatan senilai ratusan miliar dolar. Fasilitas raksasa itu menyedot air tanah dalam jumlah besar, menderu bising sepanjang hari, dan membuat tagihan listrik warga melonjak. Lebih dari 70 persen pemilih menolak pusat data di lingkungan mereka.

Penolakan itu mempertemukan orang-orang yang semula berseberangan. Di Grove City, Ohio, seorang pensiunan sopir bus yang setia mendukung Trump menggandeng aktivis Demokrat. Tujuan mereka satu: menggagalkan proyek komputasi seluas 310 hektare di lahan pertanian setempat. Politisi Demokrat segera melihat peluang. Mereka menunggangi kemarahan terhadap oligarki teknologi itu untuk masuk ke lumbung suara konservatif.

Peta persaingan pun bergeser ke wilayah yang puluhan tahun menjadi basis Partai Republik. Di Kansas, pendeta Metodis moderat Adam Hamilton berhasil mengungguli senator petahana Republik. Di Texas, mahasiswa seminari James Talarico bersaing ketat dengan Jaksa Agung Ken Paxton. Elon Musk memang sudah menyuntikkan ratusan juta dolar untuk menyelamatkan kursi Republik itu, tetapi persaingan tetap rapat.

Angka-angka mulai mencatat pergeseran arah angin tersebut. Simulasi majalah The Economist kini memberi Partai Demokrat peluang 95 persen untuk merebut kembali Dewan Perwakilan Rakyat. Peluang mereka menguasai Senat ada di angka 54 persen.

Jika perhitungan itu terwujud, Pemimpin Minoritas Hakeem Jeffries hampir pasti mencetak sejarah sebagai Ketua DPR kulit hitam pertama. Pekerjaan rumahnya berat. Ia harus menjaga kompromi antara faksi kiri progresif dan Demokrat moderat dari distrik pedesaan.

Di seberangnya, Trump hampir pasti menghadapi gelombang investigasi parlemen sampai masa jabatannya habis, bila ia kehilangan kendali atas Kongres.

Semuanya bermula dari orang-orang yang menghitung ulang sisa uang di depan pompa bensin.

Makassar, 31 Oktober 2026