Ekspor Sulsel Mei 2026 Capai US$122,42 Juta, Jepang Masih Jadi Tujuan Utama

Berita2 Views

MAKASSAR, PILARIS.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat nilai ekspor Sulawesi Selatan pada Mei 2026 mencapai US$122,42 juta. Nilai tersebut turun 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$129,37 juta.

Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Sulawesi Selatan yang dirilis Rabu (1/7/2026), secara kumulatif nilai ekspor Sulsel sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai US$567,63 juta. Angka ini mengalami kontraksi 10,84 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang tercatat sebesar US$636,65 juta.

Di tengah penurunan ekspor, impor Sulawesi Selatan justru mengalami peningkatan signifikan. Nilai impor pada Mei 2026 mencapai US$81,13 juta, meningkat 37,37 persen dibandingkan Mei 2025 yang sebesar US$59,06 juta. Secara kumulatif Januari–Mei 2026, nilai impor mencapai US$418,75 juta atau naik 35,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Komoditas nikel masih menjadi penyumbang terbesar ekspor Sulawesi Selatan. Pada Mei 2026, ekspor nikel mencapai US$77,42 juta atau berkontribusi 63,24 persen terhadap total ekspor Sulsel.

Dibandingkan April 2026, nilai ekspor nikel meningkat 12,97 persen, dari US$68,53 juta menjadi US$77,42 juta. Namun, secara kumulatif Januari–Mei 2026, ekspor nikel masih turun 1,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Komoditas ekspor terbesar berikutnya adalah biji-bijian berminyak dengan nilai US$15,78 juta atau 12,89 persen dari total ekspor. Meski demikian, komoditas ini mengalami penurunan 16,65 persen dibandingkan April 2026.

Selain itu, ekspor ikan dan udang tercatat sebesar US$6,57 juta, disusul garam, belerang, dan kapur senilai US$6,52 juta, serta kakao atau cokelat sebesar US$4,56 juta.

Di antara komoditas utama, kakao mencatat pertumbuhan paling tinggi. Secara kumulatif Januari–Mei 2026, nilai ekspor kakao mencapai US$38,82 juta, melonjak 131,10 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang sebesar US$16,80 juta.

Sebaliknya, penurunan paling tajam terjadi pada komoditas besi dan baja. Nilai ekspornya merosot hingga US$115,50 juta atau turun 80,05 persen secara kumulatif dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini menjadi salah satu faktor utama yang menekan kinerja ekspor Sulawesi Selatan sepanjang tahun 2026.

Dari sisi negara tujuan, Jepang masih menjadi pasar ekspor terbesar Sulawesi Selatan. Nilai ekspor ke negara tersebut pada Mei 2026 mencapai US$79,74 juta atau menyumbang 65,14 persen dari total ekspor Sulsel.

Posisi berikutnya ditempati Tiongkok dengan nilai ekspor US$27,59 juta atau 22,53 persen dari total ekspor. Meski demikian, ekspor ke Tiongkok turun 25,08 persen dibandingkan April 2026.

Selanjutnya, Taiwan mencatat nilai ekspor sebesar US$3,66 juta, disusul Amerika Serikat sebesar US$3,15 juta, dan Korea Selatan sebesar US$1,83 juta.

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, tiga negara tujuan utama, yakni Jepang, Tiongkok, dan Taiwan, menyerap sekitar 91,36 persen dari total ekspor Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut menunjukkan ekspor Sulsel masih sangat bergantung pada pasar Asia Timur.

Berdasarkan pelabuhan muat, Pelabuhan Malili menjadi pintu ekspor terbesar dengan nilai US$77,42 juta atau 63,24 persen dari total ekspor. Sementara Pelabuhan Makassar mencatat nilai ekspor US$38,19 juta atau 31,19 persen.

Di sisi impor, komoditas terbesar yang masuk ke Sulawesi Selatan pada Mei 2026 adalah bahan bakar mineral senilai US$15,28 juta atau 18,83 persen dari total impor. Selanjutnya gandum-ganduman sebesar US$13,78 juta atau 16,98 persen, olahan makanan hewan sebesar US$13,04 juta atau 16,08 persen, gula dan kembang gula senilai US$10,60 juta atau 13,07 persen, serta mesin dan pesawat mekanik sebesar US$7,71 juta atau 9,51 persen.

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, impor Sulawesi Selatan meningkat US$110,20 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan terbesar berasal dari impor bahan bakar mineral yang bertambah US$28,06 juta serta gandum-ganduman yang naik US$28,36 juta.

Kondisi tersebut mencerminkan tingginya kebutuhan Sulawesi Selatan terhadap energi, bahan pangan pokok, dan bahan baku industri.

Berdasarkan negara asal, Tiongkok menjadi pemasok terbesar barang impor Sulawesi Selatan pada Mei 2026 dengan nilai US$17,20 juta atau 21,20 persen dari total impor. Berikutnya Malaysia sebesar US$13,58 juta, Thailand US$11,48 juta, Brasil US$11,38 juta, dan Australia US$10,05 juta.

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, lima negara tersebut menyumbang nilai impor sebesar US$303,41 juta, meningkat 32,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, Pelabuhan Makassar masih menjadi pintu utama masuknya barang impor dengan nilai US$74,42 juta atau 91,72 persen dari total impor Sulawesi Selatan. Sisanya masuk melalui Pelabuhan Malili, Pelabuhan Parepare, dan Bandara Internasional Hasanuddin.