Pukul 04.10, seorang wasit gulat bernama Yossef Gutfreund terbangun oleh suara gesekan di pintu. Ia menahan daun pintu itu dengan bobot tubuhnya sambil berteriak memperingatkan rekan-rekannya. Beberapa detik itu menyelamatkan nyawa pelatih angkat besi Tuvia Sokolovsky, yang melompat lewat jendela.
Di luar, delapan pria bertubuh atletis, berpakaian tracksuit, baru saja memanjat pagar dua meter Perkampungan Olimpiade Munich, dibantu tanpa sadar oleh atlet-atlet yang mengira mereka sesama peserta pulang malam.
Begitu pagi 5 September 1972 dimulai.
Di dalam Connollystrase 31, delapan anggota Black September segera bergerak dari kamar ke kamar. Pelatih gulat Moshe Weinberg mencoba melawan dan ditembak. Pegulat Yossef Romano juga melawan sebelum akhirnya tewas. Sembilan anggota kontingen Israel kemudian menjadi sandera.
Munich sebenarnya ingin memperlihatkan wajah baru Jerman Barat. Panitia Olimpiade menginginkan suasana yang terbuka dan ramah. Petugas keamanan tidak membawa senjata dan pengamanan dibuat tidak mencolok. Jerman ingin menjauhkan Olimpiade Munich dari bayang-bayang Berlin 1936, ketika pesta olahraga dunia menjadi panggung propaganda Nazi.
Ironisnya, suasana terbuka itu menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan Black September. Kelompok ini muncul dari pergolakan gerakan Palestina setelah 1967, terutama bentrokan berdarah antara organisasi-organisasi Palestina dan Kerajaan Yordania pada 1970–1971 yang kemudian dikenal sebagai “Black September”.
Sembilan sandera itu menjadi alat tawar. Para penyandera menuntut pembebasan lebih dari dua ratus tahanan Palestina di penjara Israel. Pemerintahan Golda Meir menolak berkompromi.
Negosiasi berlangsung sepanjang hari. Menjelang malam, penyandera meminta pesawat untuk membawa mereka bersama para sandera keluar dari Jerman. Mereka kemudian diterbangkan dengan helikopter ke Pangkalan Udara Fürstenfeldbruck.
Polisi Bavaria telah menunggu di sana. Mereka merencanakan penyergapan, namun berantakan.
Polisi tidak memiliki satuan khusus untuk menghadapi situasi semacam itu. Koordinasi buruk. Jumlah penyandera bahkan sempat salah dihitung. Penembak yang ditempatkan di sekitar pangkalan bukan penembak jitu terlatih untuk operasi pembebasan sandera.
Tembakan pecah.
Ketika semuanya berakhir menjelang dini hari 6 September, sembilan sandera Israel tewas. Seorang polisi Jerman Barat dan lima anggota Black September juga tewas. Jika Moshe Weinberg dan Yossef Romano yang terbunuh sebelumnya dihitung, tragedi Munich merenggut tujuh belas nyawa.
Fürstenfeldbruck kemudian menjadi lebih dari tempat berakhirnya sebuah penyanderaan. Malam itu memperlihatkan sesuatu yang tidak ingin dilihat Jerman Barat: polisi biasa tidak siap menghadapi terorisme model baru.
Munich yang sejak awal dirancang sebagai Olimpiade tanpa wajah militer justru berakhir dengan kegagalan negara menggunakan kekuatan pada saat kekuatan itu dibutuhkan.
Jerman belajar dari kegagalan itu. Beberapa minggu kemudian dibentuk GSG 9, satuan khusus antiteror yang kemudian menjadi salah satu model penanganan terorisme modern.
Israel memilih jalan berbeda.
Pemerintahan Golda Meir menyetujui operasi rahasia untuk memburu orang-orang yang dianggap terlibat dalam Munich. Dunia kemudian mengenalnya sebagai Operation Wrath of God.
Namun perburuan mereka membawa persoalannya sendiri.
Pada Juli 1973, agen-agen Israel mengikuti seorang pria di Lillehammer, kota kecil di Norwegia. Mereka percaya pria itu adalah Ali Hassan Salameh, salah seorang tokoh Black September yang dikaitkan dengan Munich.
Pria itu ditembak mati. Namanya Ahmed Bouchiki, seorang pelayan restoran asal Maroko. Mereka salah orang.
Tiga puluh tiga tahun kemudian, Steven Spielberg kembali ke cerita itu melalui Munich (2005). Film tersebut mengikuti Avner, agen Mossad yang memimpin perburuan terhadap orang-orang yang dianggap terlibat dalam pembantaian Olimpiade. Satu demi satu dibunuh. Tetapi semakin panjang daftar kematian, semakin kabur pula batas antara tugas, pembalasan, dan dendam.
Spielberg tidak mengakhiri filmnya di Munich. Ia membawanya ke New York.
Pada adegan terakhir, Avner dan Ephraim berdiri di Brooklyn setelah percakapan yang tidak menyelesaikan apa-apa. Kamera perlahan meninggalkan mereka. Di kejauhan, di antara gedung-gedung Manhattan, berdiri dua menara World Trade Center.
Spielberg tidak memberi penjelasan. Mungkin memang tidak perlu.
Dunia berubah. Terorisme berubah. Negara-negara juga belajar membalas dengan cara yang semakin canggih.
Makassar, 5 September 2026






