11 Juli 1995, Ratko Mladić melangkah masuk ke Srebrenica yang sudah kosong.
Di depan kamera televisi Serbia, ia berpidato: kota ini dipersembahkan untuk rakyat Serbia, dan waktunya tiba untuk membalas dendam pada bangsa Turki di tanah ini.
Lima hari berikutnya, pasukannya menembak mati lebih dari delapan ribu lelaki dan anak laki-laki Bosniak. Mereka membuang ribuan mayat ke kuburan massal, lalu menggali sebagian dengan alat berat untuk mengaburkan jejak.
Srebrenica bukan satu-satunya dosa Mladić. Selama hampir empat tahun, artileri dan penembak jitunya mengepung Sarajevo dari perbukitan di sekitar kota, menghujani permukiman, pasar, dan rumah sakit dengan peluru setiap hari. Sepuluh ribu warga sipil tewas dalam pengepungan terlama dalam sejarah militer modern.
Goenawan Mohamad menggambarkan situasi itu melalui sajak:
Misalkan kita di Sarajevo
mereka akan mengetuk
dengan kanon sepucuk
dan bertanya benarkah ke Sarajevo
ada secelah pintu masuk.Misalkan kita di Sarajevo: tembok itu,
dengan luka-luka peluru,
akan bilang “tidak”,
selepas galau.*
Kemarin, 27 Agustus 2026, Mladić meninggal dunia di rumah sakit penjara PBB di Scheveningen, Den Haag. Usianya 84 tahun. Ia menghembuskan napas terakhir sebagai terpidana genosida yang tak pernah menyesali perbuatannya.
Ia lahir di Bosnia pada 1942, anak seorang partisan Josip Broz Tito yang gugur melawan milisi Ustaše, sebuah organisasi fasis Kroasia. Ia meniti karier militer di Yugoslavia, lalu memimpin Angkatan Bersenjata Republika Srpska saat perang Bosnia pecah pada 1992, karier yang kemudian membuatnya dikenal sebagai “Butcher of Bosnia” (Jagal dari Bosnia). Kematian putrinya, Ana, pada 1994 memperparah kebenciannya. Ia menolak percaya Ana bunuh diri dan meyakini musuh-musuh politiknya yang membunuhnya. Sejak itu ia tak lagi mengenal kompromi.
Pengadilan PBB untuk bekas Yugoslavia menghukumnya pada 2017 atas genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan pelanggaran hukum perang. Majelis banding menguatkan vonis itu pada 2021. Mladić menghabiskan sisa hidupnya di sel Den Haag, menolak melepas topi militer di ruang sidang, menyebut majelis hakim sebagai pengadilan setan.
Munira Subašić, dari kelompok Ibu-Ibu Srebrenica, menyebut kematiannya sebagai hari matinya seorang penjahat perang besar. Ia menyesal Mladić tidak menderita lebih lama.
Sebaliknya, media nasionalis Serbia justru menulis obituari yang memujinya sebagai panglima abadi Republika Srpska.
Dua reaksi ini memperlihatkan bahwa luka di Bosnia belum sembuh. Ia masih dibicarakan, bahkan ada menyangkal, tiga dekade kemudian.
Kematian Mladić seharusnya menutup satu bab kelam sejarah dunia.
Namun seperti biasa, dunia rupanya belum banyak belajar. Genosida Israel berlangsung di Gaza, tempat serangan militer Israel menewaskan puluhan ribu warga sipil Palestina, sementara Mahkamah Internasional masih terseok-seok mengadili gugatan genosida Israel tersebut.
Kita tentu tidak berharap genosida seperti di Bosnia terulang, di Gaza atau di belahan bumi mana pun.
Makassar, 28 Agustus 2026
* Kutipan sajak di atas di ambil dari sajak Gunawan Muhammad berjudul Misalkan Kita di Sarajevo yang terbit tahun 1998 sebagai Buku Kumpulan Puisi






