JAKARTA, PILARIS.ID — Sebuah kampanye kejahatan siber berskala global bersalin rupa dengan mengadopsi taktik pemasaran merek legal untuk menyebarkan malware pencuri aset kripto (crypto clipper). Aksi manipulasi ini berhasil membangun reputasi semu yang meyakinkan guna menjebak para pemegang aset digital dan pelaku judi daring yang lengah.
Berdasarkan laporan komprehensif yang dirilis oleh lembaga keamanan siber Check Point Research pada Kamis (17/6/2026). Check Point Research (CPR) adalah divisi intelijen ancaman (threat intelligence) global yang berada di bawah naungan Check Point Software Technologies Ltd yang berkantor di Amerika Serikat. Pelaku ancaman yang belum teridentifikasi ini menyebarkan malware yang disamarkan sebagai bot pemburu (sniper bots) Solana dan Pump.fun, serta aplikasi prediksi permainan judi otomatis. Target utama dari operasi senyap ini adalah para investor yang sedang berburu keuntungan cepat melalui jalan pintas teknologi.
Untuk membangun kepercayaan calon korban sebelum mereka mengklik tombol unduh, peretas memanipulasi sentimen publik secara masif di berbagai platform yang biasanya dipercaya masyarakat. Langkah ini mencakup penggunaan ulasan bintang lima yang terkoordinasi, video tutorial bergaya pembuat konten yang memanfaatkan narator berbasis kecerdasan buatan (AI) melalui kanal YouTube dengan 91.000 pengikut, hingga pemanfaatan draf rilis pers berbayar yang tersindikasi ke jaringan media berita terpercaya seperti USA TODAY Network.
Taktik canggih lainnya adalah penggunaan jaringan hantu (ghost networks) berupa klaster akun palsu untuk meracuni sistem reputasi di GitHub, SourceForge, dan VirusTotal. Di platform pelaporan VirusTotal, jaringan akun ini memberikan komentar positif dan suara setuju (upvote) secara massal agar berkas berbahaya milik peretas salah diklasifikasikan sebagai berkas yang aman dari virus.
Sementara di SourceForge, pelaku diduga menggunakan ladang gawai Android (Android farm) untuk mendongkrak angka unduhan secara artifisial hingga mencapai 44.485 kali, meskipun aplikasi yang disediakan sebenarnya hanya ditujukan untuk sistem operasi Windows dan macOS.
Secara teknis, malware clipper berbasis bahasa pemrograman Rust ini bekerja dengan memantau papan klip (clipboard) pada komputer Windows maupun Mac secara terus-menerus. Begitu sistem mendeteksi adanya susunan karakter yang cocok dengan pola alamat dompet kripto, malware akan langsung mengganti alamat tersebut dengan alamat dompet milik peretas yang telah tertanam dalam kode program.
Akibatnya, seluruh aset digital yang ditransfer oleh korban akan langsung berpindah tangan ke rekening pelaku secara instan tanpa disadari.
Pihak Check Point Research memperingatkan bahwa manipulasi reputasi berbasis komunitas ini menandai pergeseran taktik yang mengkhawatirkan di dunia kejahatan siber. Pola promosi lintas platform yang agresif ini dinilai sangat berbahaya karena di masa depan dapat dengan mudah diadopsi oleh kelompok peretas lain untuk menyebarkan perangkat lunak pemeras (ransomware) dengan target korporasi yang bernilai jauh lebih besar.






