PILARIS.ID – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) kembali memunculkan tantangan baru di bidang keamanan siber. Peneliti Check Point Research mengungkap temuan mengenai teknik browser ransomware baru yang dihasilkan oleh model AI DeepSeek. Teknik ini memanfaatkan kemampuan bawaan peramban berbasis Chromium untuk mengenkripsi file korban tanpa memerlukan instalasi malware konvensional maupun eksploitasi celah keamanan sistem operasi, sebagaimana diungkap dalam laporan yang dipublikasikan The Hacker News.
Temuan tersebut dinilai sebagai kasus pertama di mana model AI mampu menjembatani konsep browser ransomware yang selama ini dianggap hanya sebatas teori menjadi rantai serangan yang dapat dijalankan secara nyata.
“Ini adalah kasus pertama yang terdokumentasi ketika model AI frontier secara mandiri menjembatani kesenjangan antara risiko browser-only ransomware yang sebelumnya hanya bersifat teoritis menjadi teknik serangan yang benar-benar dapat dijalankan,” tulis Check Point dalam laporannya.
Menurut perusahaan keamanan siber tersebut, perkembangan AI membuat hambatan teknis untuk menemukan metode serangan baru semakin rendah. Akibatnya, pelaku kejahatan siber tidak lagi harus memiliki kemampuan riset tingkat tinggi untuk menciptakan teknik serangan yang inovatif.
Sampel malware yang dianalisis berupa aplikasi Python Flask bernama deepseek_python_20260125_da0631.py yang diunggah ke VirusTotal pada 25 Januari 2026. Malware itu diberi nama InfernoGrabber v9.0 oleh pembuatnya dan dideskripsikan sebagai toolkit pencuri informasi sekaligus ransomware.
Aplikasi tersebut menyamar sebagai layanan peningkat kualitas avatar Discord berbasis AI. Di balik tampilannya, malware menjalankan berbagai aktivitas berbahaya, mulai dari mencuri token Discord, data kartu kredit, seed phrase dompet kripto, merekam penekanan tombol keyboard, hingga mengakses kamera dan mikrofon korban tanpa izin.
Kode program juga memuat modul eksploitasi browser, mekanisme pengiriman data curian melalui Discord webhook, layar penguncian perangkat yang meminta tebusan Bitcoin, serta panel administrasi untuk mengelola data hasil pencurian.
Peneliti Check Point menemukan sekitar 3.000 berkas yang berkaitan dengan DeepSeek selama setahun terakhir. Dari jumlah tersebut, 1.383 diklasifikasikan sebagai berbahaya atau berpotensi berbahaya.
Yang menjadi perhatian utama adalah teknik In-Browser Ransomware yang memanfaatkan File System Access API, sebuah fitur resmi pada browser berbasis Chromium. Melalui teknik tersebut, korban diarahkan ke situs phishing dan diminta memberikan izin akses terhadap folder di perangkat.
Setelah izin diberikan, halaman web dapat membaca isi folder, mengirim salinan file ke server penyerang, mengenkripsi file tersebut, kemudian menimpa file asli dan menampilkan pesan tebusan. Seluruh proses berlangsung di dalam browser tanpa memasang aplikasi tambahan, tanpa mengeksploitasi kerentanan sistem operasi, serta tanpa membutuhkan hak akses administrator.
Check Point menyatakan pengujian berhasil dilakukan pada Windows, macOS, Linux, Android, serta Microsoft Edge di Windows. Sementara itu, serangan tidak berhasil direproduksi pada perangkat iOS karena keterbatasan implementasi API tersebut.
Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan bukti bahwa teknik browser ransomware tersebut telah digunakan dalam serangan nyata di internet.
Peneliti Check Point, Pedro Drimel Neto, mengatakan kemampuan AI menghasilkan serangan semacam ini menunjukkan bahwa pelaku kejahatan siber bahkan tidak perlu mengetahui keberadaan File System Access API. Dengan memberikan perintah yang sangat umum kepada AI, model dapat menghasilkan cetak biru serangan yang berfungsi.
Menurutnya, model AI dengan pembatasan yang lebih longgar terhadap permintaan berbahaya jauh lebih mudah disalahgunakan dibandingkan model yang memiliki mekanisme pengamanan lebih ketat.
Sementara itu, Kepala Riset Check Point, Eli Smadja, menyebut temuan ini sebagai perubahan mendasar dalam cara teknik serangan siber baru muncul.
“Untuk pertama kalinya, kami memiliki bukti bahwa model AI dapat menalar fitur-fitur platform yang sah dan menghasilkan teknik serangan yang benar-benar bekerja, bahkan ketika penyerang sendiri tidak mengetahui API yang dimanfaatkan,” ujarnya.
Ia mengingatkan organisasi agar memperkuat lapisan keamanan aplikasi, meninjau kembali model kepercayaan berbasis izin (permission-based trust), serta memperlakukan setiap permintaan izin dari browser sebagai keputusan keamanan yang penting.










