GOWA, PILARIS.ID – Puluhan warga Blok D Lorong 3, Perumahan Grand Sulawesi, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, bergotong royong membersihkan selokan dan lingkungan permukiman pada Minggu (28/6/2026). Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya mencegah banjir sekaligus menyampaikan aspirasi kepada pihak pengembang agar segera membenahi sistem drainase di kawasan perumahan.
Sejak pagi, warga membawa berbagai peralatan seperti cangkul, sapu lidi, gerobak, dan mesin pemotong rumput untuk membersihkan rumput liar serta mengeruk endapan lumpur yang menyumbat saluran air di sepanjang kawasan Blok D Lorong 3.
Bagi warga, kerja bakti tersebut bukan sekadar kegiatan rutin menjaga kebersihan lingkungan. Aksi itu juga menjadi bentuk kepedulian terhadap meningkatnya risiko banjir yang dinilai semakin besar seiring berkembangnya pembangunan unit-unit baru di kawasan perumahan.
Warga menilai persoalan mulai muncul setelah pembangunan rumah-rumah baru dilakukan dengan elevasi fondasi yang jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan hunian lama. Perbedaan tinggi permukaan tanah tersebut menyebabkan limpasan air hujan mengarah ke area perumahan lama yang berada di posisi lebih rendah.
Kondisi tersebut diperparah karena sebagian jalur drainase dinilai belum terhubung secara menyeluruh. Akibatnya, aliran air tidak mengalir dengan lancar, melainkan tertahan dan berbalik menggenangi jalan serta halaman rumah warga.
Menurut warga, persoalan itu telah berulang selama sekitar lima tahun terakhir setiap musim hujan. Meski belum menyebabkan banjir besar yang merendam rumah secara keseluruhan, genangan air kerap muncul hanya beberapa menit setelah hujan deras turun. Pada sejumlah rumah yang berada di titik terendah, air bahkan telah masuk ke area garasi dan meluap kembali melalui saluran pembuangan kamar mandi.
Kekhawatiran warga juga dipicu oleh kapasitas drainase yang dinilai tidak lagi memadai. Lebar dan kedalaman selokan di kawasan lama hanya sekitar 30 sentimeter sehingga tidak mampu menampung debit air yang terus meningkat, terutama setelah adanya tambahan limpasan dari kawasan pembangunan baru.
Selain kapasitas drainase yang terbatas, warga juga menyoroti kebiasaan sebagian pemilik rumah yang sedang membangun atau merenovasi bangunan. Material seperti pasir dan tanah timbunan kerap diletakkan di atas saluran air maupun bahu jalan, kemudian tidak dibersihkan secara menyeluruh setelah pekerjaan selesai. Saat hujan turun, material tersebut terbawa aliran air dan mengendap menjadi lumpur yang mempersempit saluran drainase.
Selain itu, hingga kini kawasan perumahan juga belum memiliki saluran drainase induk yang mampu menampung volume air hujan dalam jumlah besar. Akibatnya, air tidak memiliki jalur pembuangan yang memadai sehingga mudah meluap ke lingkungan permukiman.
Sebagai solusi, warga meminta pengembang segera membangun saluran drainase berukuran lebih besar di area pembangunan baru. Saluran tersebut diharapkan dapat mengalirkan limpasan air langsung menuju jalur pembuangan utama sehingga tidak lagi membebani drainase di kawasan hunian lama.
Selain itu, warga juga mengimbau seluruh penghuni agar lebih disiplin menjaga kebersihan lingkungan dan tidak membiarkan material bangunan menutupi saluran air.
Salah seorang warga, Sudirman, mengatakan persoalan drainase tidak boleh lagi dibiarkan berlarut-larut. Menurutnya, tanpa pembagian jalur aliran air yang jelas, rumah-rumah di kawasan dengan fondasi lebih rendah akan semakin rentan terdampak banjir ketika musim hujan.
“Kalau dibiarkan terus seperti ini tanpa ada pembagian jalur air yang jelas, rumah warga yang fondasinya lebih rendah ini tinggal menunggu waktu saja kemasukan air sampai ke ruang tamu,” ujar Sudirman di sela-sela kegiatan kerja bakti.
Melalui kegiatan gotong royong tersebut, warga berharap pihak pengembang tidak hanya fokus membangun unit-unit baru, tetapi juga memberikan perhatian terhadap infrastruktur pendukung, khususnya sistem drainase. Warga mendesak agar pelebaran saluran lama, pembangunan drainase pemotong di kawasan baru, serta penyambungan seluruh jalur drainase menuju saluran utama segera direalisasikan sebelum puncak musim hujan tiba demi mencegah kerugian yang lebih besar bagi penghuni.






