23 September 2026, Xi Jinping tiba di Washington. Kunjungan ini merupakan balasan setelah empat bulan lalu Donald Trump mengunjungi Beijing.
Sebenarnya, ini kunjungan biasa antara dua kepala negara. Ada pertemuan, jamuan, pembicaraan bilateral, lalu pernyataan di depan pers. Yang beda adalah bobot pertemuan, kalau melihat hubungan Trump dan Xi selama hampir sepuluh tahun terakhir, pertemuan keduanya selalu membuat dunia menahan nafas.
Pertemuan mereka bermula di Mar-a-Lago, resor milik Trump di Florida, April 2017. Saat itu keduanya masih mencoba menjajaki satu sama lain. Trump baru beberapa bulan menjadi presiden Amerika Serikat. Xi sudah jauh lebih mapan di Beijing.
Ada satu cerita ketika mereka berdua makan malam saat itu. Di tengah jamuan, Trump memberi tahu Xi bahwa militer Amerika baru saja menembakkan rudal ke sebuah pangkalan udara Suriah.
Pilihan waktunya agak aneh. Mereka sedang makan malam, lalu muncul kabar serangan militer. Tetapi Trump memang sering menjalankan diplomasi dengan cara seperti itu. Kekuatan dipamer, namun hubungan pribadi tetap dijaga.
Trump sendiri beberapa kali terang-terangan mengakui pentingnya hubungan pribadinya dengan Xi. Pada 2017, ia mengatakan tentang pemimpin Tiongkok itu, “I like him a lot; he likes me.” Lalu ia menambahkan sesuatu yang sebenarnya merangkum hubungan mereka: keduanya mewakili dua negara yang sangat berbeda, tetapi bisa berhubungan dengan baik.
Masalahnya, hubungan baik dua pemimpin tidak otomatis membuat kepentingan kedua negara ikut rukun.
Desember 2018, mereka bertemu lagi di sela KTT G20 di Buenos Aires. Amerika dan Tiongkok ketika itu sudah terlibat perang dagang. Trump menaikkan tarif terhadap barang-barang Tiongkok, Beijing membalas, dan pasar mulai gelisah.
Pertemuan Buenos Aires sempat memberi harapan. Keduanya sepakat menahan kenaikan tarif selama 90 hari agar perundingan bisa dilanjutkan.
Pasar menyambutnya dengan gembira. Tidak lama kemudian suasana berubah lagi ketika Trump menyebut dirinya “Tariff Man” di media sosial. Pasar yang sebelumnya berharap perang dagang mereda kembali khawatir.
Begitulah hubungan Amerika dan Tiongkok selama beberapa tahun berikutnya. Kadang panas, reda sebentar, lalu panas lagi.
Dampaknya terasa jauh dari Washington dan Beijing. Petani kedelai di Iowa kehilangan sebagian pasar mereka di Tiongkok. Brasil melihat peluang dan masuk mengisi kekosongan. Ketika perdagangan kedelai Amerika dan Tiongkok kemudian membaik, posisi pasar sudah berubah.
Ada juga perselisihan mengenai nilai tukar yuan dan tuduhan Amerika bahwa Tiongkok memanipulasi mata uangnya. Persoalan datang silih berganti, sementara Trump dan Xi tetap mempertahankan satu jalur yang tampaknya mereka anggap penting: hubungan langsung di antara keduanya.
Hubungan itu terlihat lagi ketika mereka bertemu di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2025.
Trump menyambut Xi dengan gaya khasnya. Ia menyebut Xi sebagai negosiator yang sangat tangguh, lalu tertawa dan mengatakan, “We know each other well.” Beberapa saat kemudian ia berkata lagi, “We have a great relationship. We’ve always had a great relationship.”
Xi melihat hubungan itu dengan bahasa yang lebih hati-hati.
Ia mengakui bahwa Amerika dan Tiongkok tidak selalu sependapat. Menurut Xi, gesekan antara dua ekonomi besar memang akan muncul dari waktu ke waktu. Ia kemudian memakai perumpamaan yang menarik: pemimpin kedua negara berada di kemudi hubungan Amerika–Tiongkok dan harus menjaga kapal besar itu tetap berada pada jalurnya.
Barangkali perumpamaan kapal itu lebih dekat dengan kenyataan daripada segala pidato tentang persahabatan.
Sebab Trump dan Xi sebenarnya tidak sedang memimpin dua negara yang bersahabat. Mereka memimpin dua kekuatan besar yang bersaing dalam perdagangan, teknologi, industri, kecerdasan buatan, pengaruh geopolitik dan kekuatan militer. Tetapi keduanya juga tahu bahwa persaingan itu mempunyai batas. Kalau melewati batas tertentu, akibatnya tidak berhenti di Amerika dan Tiongkok.
Empat bulan lalu, Trump mengunjungi Beijing. Sekarang giliran Xi datang ke Washington.
Agenda mereka sudah jauh lebih luas dibanding perang dagang beberapa tahun lalu. Ada tarif, kecerdasan buatan, teknologi, rantai pasok, sampai Taiwan. Persoalan lama belum selesai ketika persoalan baru sudah muncul.
Trump pernah menjelaskan logikanya dengan kalimat yang sangat sederhana. Menurutnya, jika kesepakatan yang baik bisa dibuat, lebih baik Amerika berhubungan baik dengan Tiongkok daripada sebaliknya. Alasannya juga sederhana: kedua negara mempunyai kekuatan yang sangat besar.
Di situlah hubungan Trump dan Xi menjadi menarik.
Mereka tidak selalu menyelesaikan persoalan secara tuntas. Sering kali yang mereka lakukan hanya menjaga agar persoalan yang ada tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih buruk.
Lalu keduanya pulang. Para pejabat melanjutkan perundingan. Petani menunggu pesanan. Perusahaan menghitung tarif. Bursa membaca setiap kalimat yang keluar dari Washington dan Beijing. Taiwan memperhatikan setiap kata yang menyangkut Selat Taiwan.
Dan dunia menunggu pertemuan berikutnya.
Agak ganjil kalau dipikir-pikir. Ekonomi dunia terdiri dari miliaran orang, ribuan perusahaan besar dan rantai perdagangan yang membentang ke mana-mana. Tetapi pada saat tertentu, suasananya bisa ikut berubah karena dua orang yang sudah saling mengenal hampir sepuluh tahun itu berhasil menemukan kesepakatan di sebuah meja.
Atau justru gagal menemukannya.
Makassar, 25 September 2026






