Berapa harga sepotong informasi?
Ada masa ketika sebuah rahasia cukup disimpan di bawah lidah. Orang menguncinya rapat-rapat, bahkan saat kuku mereka dicabut satu per satu di kamar interogasi yang lembap. Namun, di seberang meja interogasi, selalu ada orang yang rela mempertaruhkan leher demi mencuri sebaris keterangan.
Di titik genting seperti itu, informasi berhenti menjadi sekadar deretan huruf; ia menjelma menjadi nasib. Menguasai sepotong kabar berarti memegang kendali atas hidup orang lain, sedangkan menjaga rahasia adalah benteng terakhir manusia agar tidak sepenuhnya ditaklukkan.
Raymond Reddington memahami betul cara kerja pertukaran tersebut. Dalam serial The Blacklist, buron kelas kakap itu sama sekali tidak memimpin batalion bersenjata. Imperiumnya berdiri tegak di atas satu fondasi: ia tahu apa yang disembunyikan para jenderal, politisi, dan kartel di balik lemari besi mereka.
Reddington memburu catatan gelap ke seluruh penjuru bumi, lalu menakarnya persis seperti apoteker menakar racun. Ia menyerahkan satu nama penjahat kepada FBI untuk membeli kebebasannya sendiri, sembari meminjam tangan hukum untuk menyingkirkan pesaing bisnisnya.
Namun, ia memagari masa lalunya sendiri dengan sangat brutal. Demi menutup satu rahasia tentang identitas aslinya dan masa lalu perempuan muda yang ia lindungi, Reddington rela menahan siksaan fisik dan kehilangan orang-orang terdekatnya. Ia sadar bahwa begitu rahasia terakhir itu bocor, habis sudah nilai tawarnya.
Para pemburu rahasia tentu tidak lagi datang dengan setelan jas rapi dan topi fedora. Mereka menyusup tanpa suara melewati satelit, kabel optik di dasar laut, dan gelombang frekuensi udara.
Beberapa tahun silam, dokumen yang dibocorkan oleh mantan kontraktor intelijen Edward Snowden menyentak publik Indonesia: telepon genggam Presiden Republik Indonesia, Ibu Negara, dan sejumlah menteri ternyata telah lama disadap oleh dinas intelijen negara tetangga. Mesin pengintai mereka menyedot percakapan di ruang kerja dan pesan singkat di sela-sela rapat kabinet, menembus kedaulatan negara semudah angin melewati celah jendela.
Namun, spionase asing bukan satu-satunya ancaman yang mengintai dinding istana. Bahaya yang jauh lebih mematikan justru muncul ketika mesin penyadap itu dioperasikan dari dalam pagar sendiri oleh sekelompok jenderal Polri. Ketika para perwira tinggi kepolisian mengarahkan perangkat sadap milik negara untuk mencuri dengar pembicaraan kepala negara maupun pejabat tinggi, mereka tidak lagi sedang menjalankan tugas penegakan hukum.
Mereka sedang melakukan kejahatan terorganisir untuk mengumpulkan alat sandera politik. Menyadap presiden dan melucuti rahasia negara dari dalam barisan sendiri adalah bentuk pembangkangan bersenjata tanpa peluru—sebuah tindakan yang menggerogoti kekuasaan sah dan berdiri tepat di ambang makar.
Skandal penyadapan pada akhirnya selalu memperlihatkan dua wajah manusia yang berlawanan di hadapan informasi. Di satu sisi, ada orang dalam seperti Snowden yang rela menyerahkan paspor, tanah air, dan kemerdekaannya sendiri demi memberi tahu warga dunia bahwa kekuasaan sedang menguping mereka.
Di sisi lain, ada para jenderal berseragam yang justru menyalahgunakan kewenangan dan merobek sumpah jabatan demi mencuri informasi dari saku pemimpinnya sendiri. Mereka mengubah alat pertahanan negara menjadi belati yang diarahkan tepat ke punggung republik.
Makassar, 4 Nopember 2026











