Upaya Pemaksulan Wapres

Oleh Mattewakkan

Esai6 Views

Beberapa hari lalu saya menulis tentang keributan di Gedung Senat Filipina lewat judul “Manila, Rabu Malam.” Anggaplah ini lanjutannya, sebab terkait.

Besok, 18 Mei 2026, Senat Filipina resmi akan bersidang tentang pengadilan pemakzulan Sara Duterte, Wakil Presiden Filipina. Tapi perlu dicatat: yang dimulai besok bukan sidang pembuktian. Ini baru konvensi awal—pengambilan sumpah, penerbitan panggilan. Sidang pembuktian sesungguhnya diperkirakan baru dimulai sekitar Juli.

Nah, apa yang sebenarnya akan terjadi?

Pada 11 Mei 2026, dua hal terjadi sekaligus di Manila. DPR memakzulkan Wakil Presiden Sara Duterte. Di saat yang sama, Senat bergolak dari dalam.

Pemakzulan Sara sebenarnya bukan yang pertama. DPR sudah pernah mencoba pada Februari 2025. Namun prosesnya panjang dan berliku. Senat baru bersidang pada Juni 2025—dan alih-alih memulai persidangan, malah mengembalikan berkas ke DPR.

Mahkamah Agung kemudian turun tangan pada 25 Juli 2025, membatalkan seluruh proses karena melanggar aturan batas waktu satu tahun dan hak atas proses hukum yang adil. Mahkamah menegaskan: pengaduan baru hanya boleh diajukan mulai 6 Februari 2026.

Kubu anti-Duterte menunggu. Begitu waktunya tiba, mereka langsung bergerak. Dakwaannya serius: penyalahgunaan dana kepercayaan, kekayaan tidak wajar senilai lebih dari 110 juta USD, ancaman pembunuhan terhadap Presiden Bongbong Marcos dan keluarganya, hingga tuduhan keterlibatan dalam pembunuhan semasa perang narkoba. DPR menyetujui dakwaan itu dengan suara 257 berbanding 25.

Tapi keputusan DPR bukan yang terakhir. Dalam sistem Filipina, DPR hanya mendakwa—Senat yang mengadili. Nasib Sara sesungguhnya ditentukan di sana.

Beberapa saat sebelum palu DPR diketuk, Alan Peter Cayetano bergerak di Senat. Targetnya: Presiden Senat Tito Sotto, yang berjanji akan memimpin persidangan pemakzulan secara imparsial. Bagi kubu Duterte, janji itu berbahaya. Cayetano menggalang 13 senator. Mosi darurat diajukan. Kursi pimpinan dinyatakan kosong. Sotto tidak punya waktu merespons.

Yang tampil menominasikan Cayetano adalah Senator Imee Marcos—kakak kandung Presiden Marcos sendiri.
Ini bagian yang menarik. Imee bukan sekadar membelot dari adiknya. Ia meyakini pemerintahan Bongbong sudah tidak lagi dikendalikan oleh seorang Marcos, melainkan oleh Ibu Negara Liza Araneta dan sepupu mereka, Speaker DPR Martin Romualdez. Dalam sebuah video kampanye, Imee bahkan secara terbuka menuduh: pemerintahan ini bukan lagi pemerintahan Marcos.

Ada juga soal warisan. Catatan harian Ferdinand Marcos Sr. menyebut Imee sebagai anak yang cerdas dan tajam secara politik—disertai penyesalan bahwa ia tidak lahir laki-laki. Bongbong disebut malas dan tidak fokus. Imee tahu isi catatan itu. Dan ia hidup dengan kesadaran itu.

Lalu ada kepentingan elektoral. Kekuatan dinasti Marcos selalu bertumpu pada aliansi utara-selatan: Ilocos di utara, Mindanao di selatan. Ketika Bongbong menyetujui penangkapan Rodrigo Duterte atas perintah ICC pada Maret 2025, Imee melihat aliansi itu retak. Ia memilih menambalnya sendiri—dengan berpihak kepada Sara.

Jadi, hasilnya sudah bisa dibaca. Senat Filipina beranggotakan 24 orang. Untuk memakzulkan Sara, dibutuhkan 16 suara. Kubu Cayetano sudah punya 13—cukup untuk memblokir. Mungkin ada yang akan berubah pikiran. Mungkin. Tapi di Manila, kesetiaan politik jarang berubah tanpa imbalan yang lebih besar.

Mekanisme pemakzulan yang seharusnya menjadi alat akuntabilitas kini berfungsi sebagai panggung konsolidasi kekuasaan antardinasti. DPR dikuasai Romualdez. Senat kini di tangan poros Cayetano-Marcos-Duterte. Keduanya tidak akan mudah bergerak bersama hingga 2028.

Dua lembaga negara sedang dijadikan kartu-kartu kekuasaan. Begitulah politik, semua cara ditempuh. Seperti kata Otto von Bismarck: “Politics is the art of the possible, the attainable — the art of the next best.

Makassar, 17 Mei 2026


Sudah pernah diterbitkan di Facebook penulis

News Feed