Sade

Oleh Mattewakkan

Dua kali saya mengunjungi Dusun Sade di Rembitan, Lombok Tengah: mula-mula pada 2016, lalu kembali tujuh tahun kemudian, pada 2023.

Rentang tujuh tahun bukanlah waktu yang panjang bagi sebuah dusun yang telah tegak selama enam abad. Namun, di luar batas tanah Sade yang seluas 5,5 hektare itu, Lombok bergerak dengan kecepatan yang beringas.

Beton-beton pariwisata tumbuh merombak lanskap. Hanya berjarak belasan menit dari sana, aspal Sirkuit Mandalika dibentangkan untuk merayakan deru dan kecepatan.

Sade, sebaliknya, memilih bergeming. Di lorong-lorongnya yang sempit dan diapit pagar bambu, waktu seolah-olah ditakar dengan ukuran lain.

Siapa saja yang datang akan selalu disambut oleh ketukan gedogan—alat tenun kayu tradisional. Suaranya berdetak teratur dari beranda rumah, tenang dan ajek seperti napas warganya sendiri.

Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, detak itu terhenti.

Percikan api dari korsleting listrik menyambar sebuah atap, dan angin kemarau Agustus segera meniupnya menjadi kobaran yang tak tertahankan. Dalam hitungan jam, api meluluhlantakkan ratusan bangunan tradisional yang telah berdiri melintasi generasi.

Tak ada korban jiwa hari itu. Namun, bagi sekitar 700 warga dari 150 kepala keluarga di dusun adat tersebut, pemandangan yang tersisa adalah abu: ruang hidup yang selama ratusan tahun merawat ingatan bersama itu runtuh dalam sehari.

Mengapa api begitu lekas meratakan Sade? Jawabannya, barangkali, terletak pada sebuah ironi: pada arsitektur yang justru menjadi kebanggaan suku Sasak.

Rumah adat Bale Tani dan Bale Lumbung didirikan untuk berdamai dengan bumi. Dindingnya dianyam dari bambu, tiang penyangganya dipahat dari kayu tua, dan atapnya dirajut tebal dari rumput alang-alang kering yang berdiri rapat saling bersentuhan.

Tak sebatang paku besi pun ditancapkan di sana. Struktur organik ini begitu lentur; ia sanggup meliuk dan bertahan melewati pelbagai krisis zaman, termasuk ketika gempa bumi besar mengguncang Lombok pada 2018.

Namun, apa yang dirancang untuk bertahan menghadapi guncangan bumi ternyata begitu rapuh di hadapan percikan zaman. Bangunan yang selama ratusan tahun menolak sebatang paku besi itu akhirnya kalah oleh seutas kabel listrik yang menyelinap di bawah atapnya.

Seketika, anyaman bambu dan rajutan alang-alang kering itu berubah menjadi umpan sempurna bagi api.

Bersama atap-atap yang runtuh menjadi arang, api turut menelan kain tenun sesek dan songket—urat nadi ekonomi warga sekaligus penanda kedewasaan perempuan Sasak. Di balik selembar songket, ada kesabaran yang tak mengenal jalan pintas: butuh ketekunan hingga satu bulan penuh untuk menyelipkan benang emas di antara benang kapas berpewarna alami.

Hari itu, ketekunan berbulan-bulan dan alat-alat tenun warisan leluhur musnah dilalap ketidaksabaran api hanya dalam beberapa jam.

Kita pun tercenung menyaksikan puing-puing di Rembitan itu. Enam abad sejarah dan ketangguhan warga Sasak sedang diuji sekali lagi di atas tanah yang menghitam.

Namun, sebuah dusun adat pada akhirnya bukanlah sekadar deretan kayu tua dan atap ilalang yang selesai dibangun di masa silam. Sade bertahan selama enam ratus tahun karena adanya ikatan gotong royong dan tangan-tangan yang tak jemu bekerja.

Bambu dan alang-alang bisa menjadi abu, dan gedogan kayu bisa terbakar habis. Tetapi selama ingatan di tubuh warganya belum padam, ketukan tenun itu suatu hari nanti akan terdengar kembali—bukan sekadar untuk menjadi tontonan bagi kita yang datang dari luar, melainkan sebagai tanda bahwa hidup di jantung Sasak itu belum menyerah.

Makassar, 23 Agustus 2026