Akhir semester selalu menyisakan kelelahan tersendiri, tak terkecuali bagi para mahasiswa.
Setelah melakukan Ujian Akhir Semester dalam bentuk pameran poster yang memotret dinamika tata kelola perkotaan di Makassar, kami—saya dan mahasiswa Program Studi Ilmu Pemerintahan—sepakat merancang sebuah inisiatif bersama untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk perkuliahan.
Lahirlah agenda camping bertajuk “Tiba-Tiba Malino“. Kegiatannya dirancang cukup santai; sekadar mendirikan tenda di area perkemahan yang dikelilingi rindangnya pinus, diselingi permainan ringan untuk mencairkan suasana dan mempererat keakraban antar-mahasiswa setelah melewati semester yang padat.
Momen ini rupanya memberikan pengalaman lebih dari sekadar rekreasi. Sepanjang perjalanan dan selama berada di lokasi, ada realitas tata ruang yang secara alamiah memancing pengamatan kami.
Pemilihan tajuk “Tiba-Tiba Malino” yang pada awalnya murni diambil dari bahasa keseharian untuk merujuk pada rencana jalan-jalan mendadak, perlahan menemukan makna barunya.
Istilah tersebut terasa sangat pas untuk menggambarkan kondisi aktual kawasan Malino itu sendiri. Sebuah destinasi wisata yang seolah dipaksa berubah dan bersolek secara “tiba-tiba”, terbawa arus deras tren pariwisata massal yang senantiasa menuntut wajah baru.
Perubahan rupa yang drastis itu seketika tertangkap mata manakala kita mengamati jalur utama hingga ke pelosok kawasan. Transformasi spasial di Malino belakangan ini membuat kita makin kesulitan menemukan jejak identitas lokal yang tumbuh organik.
Lahan-lahan yang dulunya didominasi oleh vegetasi alami kini berdesakan dengan bangunan komersial, vila penginapan, hingga area swafoto yang begitu mengagungkan konsep “Kampung Eropa”.
Melihat masifnya penjiplakan estetika asing ini, kita seolah sedang menyaksikan fenomena placelessness (hilangnya keunikan tempat) yang pernah diutarakan oleh geografer Edward Relph, dipadukan dengan proses disneyisasi ruang pariwisata.
Ruang diproduksi secara artifisial, mencabut suatu kawasan dari akar geografi dan budayanya sendiri semata-mata demi komoditas visual. Wajah Malino hari ini adalah hasil dari komodifikasi tersebut.
Nilai historis Malino, yang secara sejarah pernah menjadi tuan rumah peristiwa sepenting Konferensi Malino 1946, kian tenggelam oleh deretan bangunan tiruan arsitektur empat musim yang dianggap lebih laku dijual. Identitas kelokalan terasingkan di tanahnya sendiri demi melayani fantasi para wisatawan.
Eksploitasi ruang atas nama pariwisata ini pada gilirannya melahirkan fenomena overtourism. Kapasitas daya dukung lingkungan (carrying capacity) Malino dipaksa menanggung beban kunjungan dan pembangunan infrastruktur yang jauh melampaui batas kewajarannya.
Harga yang harus dibayar tidak lagi sekadar memudarnya identitas budaya, melainkan ancaman nyata pada aspek ekologis.
Balai Besar KSDA Sulawesi Selatan bahkan pernah memberikan peringatan keras mengenai degradasi lingkungan di kawasan ini, merujuknya dengan istilah “bencana yang berdiam diri”.
Tingginya hasrat investasi telah memicu maraknya alih fungsi lahan hutan lindung menjadi area perkebunan komersial maupun infrastruktur pendukung pariwisata massal tersebut.
Dampak dari hilangnya tutupan kanopi hutan kini bisa dirasakan secara langsung. Malino yang puluhan tahun lalu tersohor dengan suhu udaranya yang menusuk tulang, perlahan menghangat, di mana pada waktu-waktu tertentu suhunya menembus angka 29 derajat celcius.
Perubahan iklim mikro tersebut nyatanya membawa efek domino yang rambatannya meluas hingga ke kawasan hilir.
Berkurangnya tegakan pohon yang berfungsi sebagai penahan air di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Jeneberang turut memicu percepatan laju erosi tanah.
Setiap kali curah hujan tinggi, jutaan kubik sedimentasi lumpur mengalir ke bawah dan kini menjadi ancaman serius bagi usia maupun daya tampung Bendungan Bili-Bili.
Perlu diingat bahwa bendungan ini bukan sekadar waduk biasa, melainkan fasilitas vital yang menyuplai kebutuhan air baku bagi warga di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar.
Mengorbankan ekosistem hulu atas nama gempita pariwisata sama halnya dengan mempertaruhkan ketersediaan air dan keselamatan hidup jutaan masyarakat di hilir.
Pada akhirnya, kegiatan camping “Tiba-Tiba Malino” menyisakan sebuah perenungan tajam sebelum kami kembali ke rutinitas kampus.
Sektor pariwisata memang memiliki daya tarik sebagai penggerak ekonomi daerah, tetapi pengembangannya mutlak berpegang teguh pada kelestarian ekologi dan respek terhadap ruang sosio-kultural masyarakat setempat.
Malino tidak perlu dipaksa menjadi tiruan Eropa agar bisa menarik hati pengunjung.
Merawat identitas kelokalannya dengan utuh, mengerem laju overtourism, dan melindungi kawasan resapan air adalah prasyarat yang tidak bisa ditawar.
Jika kita abai terhadap batas-batas alam ini, pesona dataran tinggi Gowa hanya akan berakhir menjadi komoditas sesaat yang kelak meninggalkan warisan bencana jangka panjang.
*Dosen Ilmu Pemerintahan, Fisip unismuh Makassar


