Dari bukit Fnideq di Maroko, Ceuta memang terlihat dekat. Laut yang memisahkan dua dunia itu sempit, bisa diseberangi hanya dalam hitungan menit.
Kamis lalu, ribuan orang membuktikan jarak itu bisa ditempuh. Mereka menyeberang lewat darat dan laut, sebagian menerobos pagar El Tarajal, perbatasan Maroko-Spanyol, sebagian lagi berenang menembus dinginnya laut tengah malam.
Rekaman video orang-orang berlari menembus pagar dan berenang menuju pantai sudah beredar luas di media sosial, bisa ditonton siapa saja yang membuka linimasa mereka hari ini.
Tim penyelamat menemukan sembilan belas jenazah mengapung di perairan sepanjang pekan ini. Ratusan anak di bawah umur tidur beralaskan kardus di jalanan dekat pusat penampungan yang sudah penuh sesak.
Ceuta, eksklave Spanyol di pesisir utara Afrika berpenduduk delapan puluh tiga ribu orang, menyatakan darurat kemanusiaan dan meminta pemerintah Spanyol di Madrid mengambil alih.
Ceuta adalah sepetak Eropa yang menempel di tubuh Afrika, warisan kolonial sisa zaman kekaisaran yang masih bertahan sampai sekarang.
Bagi pemuda Maroko yang berhadapan dengan pengangguran dan matinya perdagangan lintas batas, tembok tipis itu memisahkan mereka dari euro, jaminan sosial, dan hidup yang lebih mungkin. Bagi banyak dari mereka, kalkulasinya sederhana: risiko sesaat demi peluang hidup yang jauh lebih baik.
Sebagian punya alasan lebih konkret untuk menuju Spanyol dibanding negara Eropa lain: sanak keluarga yang sudah lebih dulu menetap di sana, kebutuhan tenaga kerja musiman di sektor pertanian dan jasa, serta bahasa dan sejarah yang membuat jalur migrasi ini sudah terbentuk sejak lama.
Ketimpangan seperti ini jarang berdiri sendiri di dekat garis batas negara.
Pemicu langsung gelombang kali ini bersumber dari pengadilan di Madrid. Mahkamah Agung Spanyol membatasi mekanisme deportasi cepat di perbatasan.
Putusan itu sendiri lahir dari kekhawatiran soal hak asasi, karena deportasi kilat tanpa proses individual dianggap melanggar hukum internasional. Aturan baru itu hanya berlaku bagi migran yang tertangkap tepat saat memanjat pagar. Celah ini cukup mengubah kalkulasi ribuan orang di Fnideq.
Serikat polisi Spanyol memperingatkan, begitu seseorang berhasil masuk, proses pemulangannya nyaris mustahil.
Pola ini mirip kejadian pada Mei 2021, ketika Maroko mengendurkan penjagaan perbatasan setelah Spanyol mengizinkan pemimpin Polisario, kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Sahara Barat dari Maroko, dirawat di rumah sakit di negara itu. Sepuluh ribu orang menyeberang dalam hitungan hari.
Pola semacam ini disebut senjata migrasi, istilah yang dipopulerkan Kelly Greenhill, akademisi hubungan internasional dari Tufts University, untuk menjelaskan bagaimana arus manusia bisa dipakai sebagai alat tekan diplomatik.
Namun, sejumlah pakar minta Spanyol jangan buru-buru menuding pemerintah Maroko, karena menyamaratakan dua krisis yang mekanismenya beda bisa bikin analisisnya meleset.
Spanyol sudah mengerahkan tentara ke Ceuta, dan petugas terus menemukan jenazah di sepanjang pantai. Kepala pemerintahan Ceuta juga meminta status darurat nasional, sementara serikat polisi mendesak reformasi undang-undang imigrasi dan perjanjian penerimaan kembali dengan Maroko.
Krisis ini boleh jadi lahir dari kalkulasi politik di Maroko, atau dari celah hukum yang dibuat pemerintah Spanyol sendiri. Hasilnya tetap sama.
Yang jelas, penjagaan militer di perbatasan masih sulit mengurangi manusia yang datang bergelombang. Menyaksikan angka korban terus bertambah, sulit untuk tetap menganggap ini murni soal keamanan perbatasan.
Filsuf Hannah Arendt, yang pernah jadi pengungsi tanpa negara, pernah menulis bahwa kehilangan rumah berarti kehilangan seluruh jaringan hubungan yang membuat seseorang diakui sebagai manusia di mata orang lain.
Ribuan orang yang menyeberang ke Ceuta pekan ini mengerti benar taruhannya. Mereka rela kehilangan itu semua, bahkan nyawa, demi satu peluang untuk memulai dari nol di tempat lain.
Makassar, 31 Juli 2026






