Pakta Mekkah

Oleh Mattewakkan

Kolom25 Views

Mekkah, 7 Agustus. Mohammed bin Salman, Recep Erdogan, Shahbaz Sharif berdiri di hadapan kamera, seusai penandatanganan Mecca Joint Defense Agreement.

Mereka mengikatkan diri pada satu kesepakatan: kalau salah satu diserang, ketiganya dianggap ikut diserang.

Saya sempat berpikir ini cuma seremoni belaka. Ternyata betulan.

Sejak akhir Februari, Timur Tengah memang terbakar. Amerika dan Israel menyerang Iran, dan Iran membalas lewat proksinya.

Houthi menembak dari Yaman. Milisi Syiah bergerak dari Irak. Fasilitas minyak Aramco di Yanbu kena rudal. Riyadh sendiri pernah jadi sasaran.

Hormuz dan Bab al-Mandeb, dua jalur kapal minyak dunia, jadi tidak aman untuk dilewati.

Amerika tidak lagi terasa cukup sebagai penjamin keamanan.

Arab Saudi mulai mencari sandaran lain, dan menemukannya pada kombinasi yang agak aneh: uangnya sendiri, drone Turki, bom nuklir Pakistan.

Turki dan Pakistan sedang kesulitan keuangan. Mereka butuh modal Saudi.

Sebagai gantinya, Turki membuka pasar ekspor besar untuk drone tempurnya, termasuk Bayraktar, sekaligus mendapat ruang untuk menempatkan kapal atau pesawatnya di Teluk.

Pakistan, yang memang sudah punya perjanjian bilateral dengan Arab Saudi sebelumnya, sudah menaruh delapan ribu tentara di tanah Saudi lengkap dengan jet dan sistem pertahanan udara. Kini posisinya semakin dalam lewat pakta trilateral ini.

Tentu ada reaksi. Beragam.

Iran meremehkan, menyebut perjanjian di atas kertas tidak akan menyelamatkan siapa pun.

Houthi di Yaman lebih tajam, memperingatkan Turki dan Pakistan agar tidak menjadi tameng politik bagi tindakan yang merugikan Yaman atau mendukung blokade di Laut Merah.

Israel gelisah sebab khawatir Riyadh makin menjauh dari normalisasi. Sampai sekarang, Arab Saudi memang belum pernah mengakui Israel sebagai negara.

India memelototi gerak-gerik Pakistan, rivalnya sejak lama, yang tiba-tiba naik kelas di kawasan ini.

Amerika santai saja, karena ini persis yang mereka mau: sekutu regional menanggung beban sendiri.

Mesir sempat ikut dalam pembicaraan awal, tapi akhirnya memilih tidak ikut menandatangani. Kenapa? Akan saya bahas di tulisan lain.

Saya ragu ketiga negara ini bakal kompak saling bela saat perang terjadi. Masalahnya, pakta tersebut sama sekali tidak mengatur jumlah pasukan yang harus dikirim kalau salah satu dari mereka diserang.

Lagi pula, kondisi politik di kawasan ini sangat cair dan cepat berubah.

Saya  teringat kalimat yang pernah disampaikan Lord Palmerston dalam pidatonya di depan House of Commons pada 1 Maret 1848, ketika ia masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Inggris.

Mantan Perdana Menteri Inggris itu pernah berujar bahwa negara tidak punya sekutu abadi atau musuh abadi, melainkan hanyalah kepentingan itu sendiri.

Tentu kalau kepentingan Riyadh, Ankara, dan Islamabad mulai berbenturan, pakta ini tidak akan banyak berguna.

Lalu kalau Arab Saudi diserang langsung, akankah Turki dan Pakistan benar-benar berperang, atau cukup mengirim radar dan doa?

Kita baru tahu jawabannya kalau rudal benar-benar tiba di Riyadh.

Makassar, 8 Agustus 2026