Selain Maeda, ada juga Kandeler.
Jam menunjukkan lewat tengah malam, 16 Agustus 1945. Di ruang makan rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, Soekarno dan Hatta baru saja merampungkan draf proklamasi, namun masih berbentuk tulisan tangan.
Masalahnya, di rumah itu tidak ada satu pun mesin ketik Latin. Semuanya Kanji.
Satsuki Mishima, staf rumah tangga Maeda, mengambil inisiatif. Ia menaiki jip bersama beberapa pemuda, menembus jam malam Jakarta yang gelap dan tegang. Patroli Kempetai bisa muncul kapan saja, dan Angkatan Darat Jepang memang masih berusaha mempertahankan status quo di tengah vacuum of power.
Rombongan menuju Gedung KPM di Koningsplein, kini menjadi gedung Pertamina di Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, tempat perwakilan Angkatan Laut Jerman, Kriegsmarine, bermarkas.
Rombongan bertemu Korvettenkapitän Dr. Hermann W. Kandeler, Komandan Kriegsmarine di wilayah Indonesia/Jakarta. Kandeler meminjamkan mesin ketik portabelnya, tanpa banyak tanya. Toh negaranya sudah kalah perang sejak Mei, dan ia hanya perwira yang menolong orang yang datang mengetuk pintu. Mesin itu dibawa kembali ke rumah Maeda, diserahkan kepada Sayuti Melik.
Sayuti Melik mengetik naskah di ruang terpisah, ditemani B.M. Diah, kisah ini kemudian dikenang lewat biografinya, “BM Diah: Wartawan Serba Bisa“. Sayuti mengubah “tempoh” menjadi “tempo”. Ia mengganti “wakil-wakil Bangsa Indonesia” menjadi “atas nama Bangsa Indonesia”. Tanggal ditulis dengan penanggalan Jepang, tahun Kōki 2605. Perubahan kecil, untuk menyesuaikan kondisi.
Naskah sudah jadi. Soekarno dan Hatta menandatanganinya di atas piano Maeda. Pukul sepuluh pagi, proklamasi dibacakan di Pegangsaan Timur 56. Mesin ketik Kandeler kembali ke Kriegsmarine, lalu menghilang dari catatan sejarah. Museum Perumusan Naskah Proklamasi kini hanya memajang replikanya. Tahun 1956, Soekarno sempat berjumpa lagi dengan Kandeler, di Gedung Opera Kroll, Berlin.
Kehadiran Kriegsmarine di Jakarta bukan kebetulan. Sejak 1943, Jerman dan Jepang menjalankan Monsun Gruppe, jaringan kapal selam U-boat yang beroperasi dari Penang sampai Surabaya. Jerman menyerah pada 8 Mei 1945. Jepang mengambil alih U-boat yang tersisa, U-219 berganti nama menjadi I-505. Tapi kantor teknis seperti milik Kandeler tetap berdiri, meski tanpa status jelas sejak Mei 1945.
Naskah proklamasi lahir dari tangan pribumi. Tapi diketik di rumah seorang perwira Jepang, dengan mesin ketik yang dipinjamkan seorang perwira Jerman. Kedua negara itu baru saja kalah perang.
Sejarah kadang bekerja lewat jalan memutar seperti itu. Kemerdekaan sebuah bangsa, ikut ditopang sebagian oleh reruntuhan dua bangsa lain, jauh di ujung dunia.
Mesin ketik itu sendiri kini tak berjejak. Tidak ada yang tahu ke mana perginya setelah dikembalikan ke Kriegsmarine. Sejarawan Horst H. Geerken menulis ulang jejak Kandeler dan para pelaut Jerman ini dalam Hitler’s Asian Adventure, terbit 2015.
Dari detail teknis itu, kita bisa lihat gambaran besar. Hegel menyebutnya kecerdikan akal budi, List der Vernunft — gagasan bahwa sejarah kerap mencapai tujuannya lewat tangan orang-orang yang sama sekali tidak memahami tujuan itu.
Kandeler tentu tidak berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Begitu pula Jerman, begitu pula Jepang. Tapi reruntuhan ambisi perang mereka menjadi pijakan bagi bangsa lain. Sebuah mesin ketik pinjaman, pada tengah malam di Jakarta, jadi bukti kecilnya.
Merdeka bung!
Makassar, 16 Agustus 2026






