Sirene meraung berjam-jam di Kyiv dari malam 1 ke 2 Juli 2026. Warga berlarian ke stasiun metro sejak dini hari. Rusia melepas salah satu gelombang drone dan rudal terbesar sepanjang perang ke ibu kota Ukraina.
Sedikitnya 30 orang tewas. Sembilan puluh satu lainnya cedera. Tim penyelamat masih menggali reruntuhan sebuah gedung apartemen di Distrik Darnytskyi. Pejabat Ukraina memperkirakan, angka korban bisa terus bertambah.
Presiden Volodymyr Zelensky sempat memperingatkan serangan besar akan datang. Ia meringkas kunjungannya ke Irlandia dan pulang lebih cepat, tak lama sebelum ledakan pertama terdengar.
Rusia menembakkan lebih dari 70 rudal dan sekitar 500 drone dalam semalam. Dua puluh delapan di antaranya rudal balistik — jumlah tertinggi yang pernah menghantam Kyiv dalam satu serangan.
Sasaran tersebar di lebih dari 30 titik, mencakup seluruh distrik kota. Sebuah hotel, institut riset, stasiun ambulans, dan permukiman warga ikut hancur. DTEK, perusahaan energi swasta terbesar Ukraina, melaporkan kerusakan pada jaringan listriknya di Kyiv.
Metro, kereta bawah Kyiv, menampung 52.500 orang malam itu. Hampir 4.500 di antaranya anak-anak. Seluruh 46 stasiun bawah tanah berubah jadi bunker dadakan.
Moskow menyebut serangan ini balasan atas serangan balik Ukraina ke kilang minyak Rusia. Ukraina memang belakangan menyasar infrastruktur energi di wilayah Rusia, termasuk Nizhny Novgorod.
Serangan ini terjadi lima hari sebelum KTT NATO di Ankara, 7-8 Juli. Zelensky dijadwalkan hadir. Ankara akan membahas dukungan lanjutan untuk Ukraina, di tengah tekanan Presiden Trump agar Kyiv segera menerima kesepakatan damai.
Kerusakan rumah sakit dan gudang bantuan memperberat krisis kemanusiaan yang sudah lama membebani warga Kyiv. Bencana musin dingin yang akan datang beberapa bulan lagi sudah mulai terasa akibat pemadaman listik.
Eropa kembali dihadapkan pada urgensi lama: memperkuat pertahanan udara dan menjaga solidaritas NATO tetap utuh. Kelelahan politik di Jerman dan Prancis membuat urgensi itu sulit diterjemahkan jadi tindakan cepat.
Bagi Indonesia dan negara Global South lain, serangan ini mengingatkan betapa rapuhnya keamanan regional di dunia yang makin multipolar. Harga energi dan pangan dunia ikut bergetar setiap kali ada wilayah bergolak..
Serangan ke Kyiv bukan penutup cerita. Ia babak baru dari perang yang sudah lama berlarut. Pertanyaannya bukan lagi kapan perang ini berakhir, tapi berapa banyak lagi kota yang harus kehilangan malamnya sebelum dunia benar-benar bertindak.
Tony Benn, politisi senior Partai Buruh Inggris yang dikenal keras menentang keterlibatan Inggris dalam berbagai perang, pernah mengingatkan: “All war represents a failure of diplomacy.”
Malam di Kyiv itu mengulang pelajaran yang sama — bukan pelajaran baru, hanya diulang dengan korban yang baru.
Makassar, 3 Juli 2026






