Rambut Bibi Terbakar

Ditulis oleh Mattewakkan

Kolom2 Views

Tanggal 19 Mei 2026 kemarin, Trump dan Netanyahu bicara lewat telepon. Satu jam. Dan rupanya tidak menyenangkan.

Sesudah panggilan itu berakhir, ada orang di Gedung Putih bercerita bahwa “rambut Bibi terbakar.” Gambaran yang lucu, meski situasinya tidak lucu sama sekali.

Pangkal masalahnya: Trump membatalkan rencana serangan udara ke Iran yang sudah dijadwalkan hari itu. Operasi dengan sandi Sledgehammer. Dibatalkan begitu saja, setelah para pemimpin Arab Teluk — Saudi, UEA, Qatar — memintanya menahan diri. Di saat yang sama, Qatar dan Pakistan hampir merampungkan draf kesepakatan damai. Trump melihat ada celah. Ia pilih diplomasi.

Netanyahu tidak bisa menerima. Baginya, berhenti sekarang sama saja memberi Iran waktu untuk pulih. Kesempatan untuk benar-benar melumpuhkan program nuklir mereka bisa hilang begitu saja — dan kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.

Trump tidak bergerak. Malah, ia bicara di depan media dengan nada yang cukup meremehkan: Netanyahu “akan melakukan apa pun yang saya perintahkan.” Kalimat yang tidak perlu diucapkan, tapi diucapkan juga.

Keduanya memang sedang mengejar tujuan yang berbeda. Trump ingin perang selesai cepat. Ada harga minyak yang harus distabilkan, ada pemilu paruh waktu yang mendekat. Netanyahu melihat ini sebagai momen bersejarah — sekali seumur hidup — untuk mengubah peta kekuatan di kawasan secara permanen.

Perbedaan itu punya dampak. Ketika keduanya bertengkar di depan umum, Iran menyimpulkan bahwa Washington tidak punya selera untuk eskalasi lebih jauh. Kesimpulan itu membuat mereka merasa tidak perlu bergerak dari posisi negosiasi yang keras.

Di sisi Netanyahu, tekanan datang dari dalam negerinya sendiri. Koalisi politiknya retak. Pemilu dini mengancam. Kalau ia menerima kesepakatan yang masih membiarkan Iran punya program nuklir — meski terbatas — faksi ultranasionalis di kabinetnya akan berbalik melawannya.

Maka kita semua sudah bisa menduga. Netanyahu kemungkinan memutuskan bertindak sendiri. Menyerang Iran tanpa restu Trump, agar dia bisa melewati pemilu dini dengan kemenangan. Dan kalau itu terjadi, Amerika akan terseret kembali ke medan perang — suka atau tidak.

Satu jam telepon tidak menyelesaikan apa pun. Tapi memberi kita catatan: Trump dan Netanyahu tidak sedang berjalan ke arah yang sama.

Makassar, 22 Mei 2026