Akhirnya, Keir Starmer menyerah. Dia mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin, 22 Juni 2026 setelah memimpin kurang dari dua tahun. Pemerintahannya goyah, terhempas oleh konflik internal dan krisis kepercayaan publik.
Andy Burnham langsung menjadi sorotan. Dia baru saja menang di pemilihan sela Makerfield dengan 54,8 persen suara, dan itu cukup untuk memenuhi syarat calon Perdana Menteri—harus aktif di parlemen. Inggris akan mendapat pemimpin ketujuh dalam sepuluh tahun.
Jatuhnya Starmer berasal dari beberapa sebab. Ada skandal Peter Mandelson, yang Starmer tunjuk sebagai Duta Besar untuk Amerika Serikat meski banyak yang menolak. Dokumen pengadilan AS keluar September 2025 menunjukkan Mandelson pernah menginap di apartemen Epstein setelah Epstein divonis. Polisi menangkapnya Februari 2026, dan Kepala Staf Starmer mundur tidak lama setelahnya.
Ada juga karena kegagalan komunikasi. Mei 2025, Starmer mengingatkan bahwa Inggris bisa menjadi “pulau orang asing” tanpa kontrol imigrasi ketat—frasa yang langsung membawa orang pada pidato rasis Enoch Powell, seorang politisi konservatif Inggris yang terkenal dengan retorika anti-imigran. Sayap kiri partai bereaksi keras. Dia minta maaf sebulan kemudian, namun semua sudah rusak.
Kemudian, ada pemilihan lokal Mei 2026. Partai Buruh kehilangan 1.500 kursi. Wes Streeting, Menteri Kesehatan, mengundurkan diri dengan kritik tajam, diikuti John Healey, Menteri Pertahanan yang menolak pemotongan anggaran militer yang menurutnya membahayakan NATO.
Burnham berasal dari Liverpool, 1970, keluarga kelas pekerja. Cambridge, kemudian anggota parlemen untuk Leigh pada 2001. Hidup berubah di Anfield pada 2009. Saat berbicara dalam peringatan Tragedi Hillsborough – bencana stadion 1989 yang menewaskan 97 penonton sepakbola saat itu– ribuan penggemar mencemoohnya. Dia lalu memutuskan untuk keluar dari London dan berjuang bersama keluarga korban tragedi tersebut untuk menuntut keadilan.
Dia gagal dua kali meraih kepemimpinan partai. Pada 2017 dia keluar dari parlemen dan menjadi Wali Kota Greater Manchester, menang besar dan terpilih kembali. Semasa pandemi dia terkenal sebagai King of the North, sebab dia menolak kebijakan Boris Johnson yang tidak adil bagi kotanya.
Di Manchester dia mengembangkan “Manchesterism“—memadukan iklim investasi dengan kontrol publik. Bus murahnya menawarkan tarif dua poundsterling. Dia juga sumbangkan 15 persen gaji untuk tunawisma.
Pada 18 Juni 2026, Burnham menang telak di Makerfield. Pemilih progresif mengalihkan suara secara taktis untuk membendung Reform UK. Kemenangan itu memicu kepanikan Starmer, yang akhirnya memilih mundur.
Burnham kini harus membangun kabinetnya dan menghadapi tantangan ekonomi, pertahanan, serta negosiasi luar negeri yang rumit.Inggris akan menguji Burnham
Makassar, 24 Juni 2026






