Dibuang Mantan, Demi Janda Terpandang, Gadis Ini Malah Menjadi Ratu yang Silsilahnya Abadi

Oleh Adi Adnan*

Kolom26 Views

Pernahkah Anda merasa dunia seolah runtuh karena dikhianati, ditinggalkan, atau kehilangan sesuatu yang sangat Anda inginkan?

Ketika hal itu terjadi, wajar jika muncul rasa sesak di dada. Rasa kecewa itu lantas diikuti pertanyaan: mengapa jalan hidupku seburuk ini?

Namun jika kita membuka lembaran sejarah dunia, kita akan menemukan sebuah fakta menakjubkan. Kehilangan terbesar dalam hidup kita seringkali merupakan cara Tuhan untuk menyelamatkan kita dari kehancuran yang lebih besar.

Mari kita kembali ke tahun 1790-an di daratan Eropa, untuk menyaksikan sebuah drama nyata tentang bagaimana takdir membolak-balikkan nasib manusia. Kisah ini tentang dua tokoh: Napoleon Bonaparte dan Desiree Clary.

Ambisi Napoleon yang Berakhir Tragis

Di masa mudanya, Napoleon Bonaparte hanyalah seorang tentara miskin yang belum menjadi siapa-siapa.

Di masa sulit itulah ia menjalin cinta dan bertunangan dengan seorang gadis, putri dari seorang pedagang kain sederhana di Prancis bernama Desiree Clary. Desiree mencintai Napoleon apa adanya, jauh sebelum lelaki itu mengguncang dunia.

Namun seiring berjalannya waktu, karier militer Napoleon melesat tajam. Ketika pintu dunia, popularitas, dan kekuasaan mulai terbuka lebar di hadapannya, tumbuhlah benih-benih keserakahan di dalam hatinya. Napoleon merasa Desiree yang sederhana tidak lagi selevel dengannya.

Demi mengejar status sosial dan ambisi politik agar bisa menjadi penguasa tertinggi, Napoleon dengan tega memutuskan pertunangannya secara sepihak. Ia memilih menikahi Josephine, seorang janda bangsawan terpandang, yang menurutnya bisa memuluskan langkahnya menuju takhta Prancis.

Apakah Napoleon berhasil? Ya, secara kasat mata ia sukses besar. Ia mengobarkan perang di seluruh Eropa, menaklukkan kerajaan-kerajaan, dan akhirnya menobatkan dirinya sendiri sebagai Kaisar Prancis. Ia merasa menjadi manusia paling berkuasa yang tidak mungkin terkalahkan.

Namun, apa akhir dari kekuasaan yang dibangun di atas fondasi pengkhianatan dan keserakahan itu? Sangat tragis dan berumur pendek.

Kekaisaran Napoleon runtuh dalam waktu singkat akibat ambisinya sendiri yang tidak pernah puas. Ia kalah perang, takhtanya dicabut, dan ia diasingkan ke Pulau St. Helena, sebuah pulau terpencil di tengah samudra yang sepi, hingga meninggal dalam kesendirian. Semua kemegahan dunianya sirna tanpa sisa.

Indahnya Ridho Terhadap Takdir

Di sisi lain, mari kita lihat nasib Desiree Clary, gadis yang hatinya hancur saat ditinggalkan Napoleon.

Saat ditinggalkan, Desiree tentu merasakan kepedihan yang luar biasa. Namun ia memilih untuk tidak tenggelam dalam dendam atau meratapi nasibnya.

Ia menata kembali hatinya, menerima kenyataan dengan lapang dada, lalu melanjutkan hidup dan menikah dengan tentara Prancis yang jujur dan berwibawa bernama Jean Baptiste Bernadotte.

Di sinilah skenario Tuhan yang Agung mulai bekerja di luar nalar manusia.

Bertahun-tahun kemudian, Kerajaan Swedia mengalami krisis kepemimpinan karena raja mereka tidak mempunyai putra mahkota. Melalui rangkaian peristiwa sejarah yang tak terduga, rakyat Swedia jatuh hati pada kepribadian, kebaikan, dan integritas suami Desiree.

Melalui keputusan resmi, rakyat Swedia akhirnya memilih suami Desiree untuk menjadi raja Swedia yang baru.

Desiree Clary, gadis yang dahulu dibuang dan dianggap tidak cukup pantas untuk mendampingi kaisar Prancis, justru diangkat derajatnya oleh Tuhan menjadi Ratu Swedia dengan nama Ratu Desideria.

Plot twist terindahnya adalah faktor keabadian. Jika kekaisaran Napoleon runtuh seketika dan tidak ada lagi garis keturunannya yang memimpin Prancis, garis keturunan Desiree Clary justru abadi.

Dinasti Bernadotte yang didirikan oleh Desiree dan suaminya bertahan melewati ratusan tahun sejarah. Bahkan Raja Swedia yang memimpin saat ini, Raja Carl XVI Gustaf, adalah keturunan langsung dari rahim Desiree Clary.

Hak Prerogatif Tuhan Dalam Membolak-Balikkan Nasib

Kisah kontras antara Napoleon dan Desiree ini menjadi visualisasi sempurna dan bukti nyata dari apa yang difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur’an, Surah ke-3, Ali ‘Imran, ayat 26, yang artinya:

“Katakanlah (Muhammad), ‘Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'”

Ayat ini mengingatkan kita bahwa manusia boleh saja menyusun rencana dengan segala ambisinya, tetapi Allah adalah sebaik-baik perencana, yang akan menentukan siapa yang mulia dan siapa yang hina.

Napoleon mengejar kejayaan dengan cara yang batil, maka Allah SWT hinakan dia di akhir hayatnya. Sementara Desiree yang menerima takdir dengan keikhlasan, maka Allah SWT muliakan jalannya lewat pintu yang sama sekali tidak pernah ia duga.
Sejarah ini juga mengonfirmasi kebenaran firman Allah SWT Surah ke-2, Al-Baqarah ayat 216, yang artinya:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Pesan Dakwah Untuk Kehidupan Kita Hari Ini

Sahabat, jika hari ini Anda sedang menghadapi jalan buntu dan kekecewaan mendalam, ambillah hikmah dari kisah di atas.

Ada ungkapan bahasa Arab yang mengatakan, “Khudzil hikmah wala yadhurruka min ayyi wi’a in kharajat“, yang artinya: ambillah hikmah itu selama tidak membahayakanmu atau merugikanmu, dari manapun ia berasal.

Nabi Muhammad SAW pun pernah bersabda, “Al-hikmatu dhallatul mu’min, faidza wajadaha fahuwa ahaqqu biha“, yang artinya: ilmu atau kebijaksanaan adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Di manapun ia menemukannya, ia berhak mengambilnya. (H.R. Tirmidzi)

Tersenyumlah dan katakan pada diri Anda sendiri: “Mungkin hari ini Tuhan sedang menjauhkanku dari ‘Napoleon’ yang salah, karena Dia sedang menyiapkan ‘singgasana Swedia’ yang jauh lebih berkah dan abadi untukku di masa depan.”


*penulis adalah Wakil Ketua Takmir Masjid Al Ikhlas, Kelurahan Mappala, Kota Makassar.