Dunia Melepas Khamenei

Oleh Mattewakkan

Esai5 Views

Teheran, awal Juli. Peti mati berbalut kain suci diarak lewat jalan-jalan yang empat bulan lalu diguncang bom. Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran selama 37 tahun, akhirnya akan dimakamkan. Ia gugur dalam serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menghantam kompleksnya pada 28 Februari, jam-jam pertama perang yang meletus hari itu juga. Usianya 86 tahun.

Pemakaman yang sedianya digelar Maret harus ditunda. Perang belum reda. Pemerintah Iran sendiri baru mengumumkan kematiannya sehari setelah serangan, lalu menetapkan 40 hari berkabung dan tujuh hari libur nasional.

Prosesi baru berlangsung empat bulan kemudian, tujuh hari penuh, 4 hingga 9 Juli, melintasi Teheran, Qom, Najaf, Karbala, sebelum berakhir di Mashhad — kota kelahirannya sendiri. Jutaan orang turun ke jalan. Perwakilan dari lebih seratus negara hadir memberi penghormatan terakhir. Indonesia turut mengirim wakilnya, Duta Besar Rolliansyah Soemirat.

Sebagian besar dunia Barat tak terlihat dalam daftar tamu, sementara yang datang sudah bisa diduga — Rusia, Tiongkok, Pakistan, sejumlah negara Asia Tengah dan Kaukasus. Peta undangan ini menggambar ulang garis aliansi Iran pasca-perang, sekaligus menegaskan siapa yang dianggap Teheran berdiri di pihak yang benar.

Mojtaba Khamenei, putranya, ditunjuk sebagai pengganti sejak awal Maret — hanya beberapa hari setelah serangan yang menewaskan ayahnya. Suksesi berjalan cepat, di tengah negara yang masih berperang dan belum selesai berkabung. Iran memasuki babak kepemimpinan baru sebelum sempat memakamkan yang lama.

Hari pertama pemakaman jatuh bersamaan dengan perayaan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat, negara yang terlibat langsung dalam pembunuhannya. Seluruh rangkaian berlangsung di bulan Muharram, bulan yang dalam tradisi Syiah identik dengan pengkhianatan dan kematian seorang pemimpin suci. Penjadwalannya sendiri disusun mengikuti kalender itu — bukan kebetulan.

Dunia menyaksikan Iran melepas pemimpinnya di jalan-jalan yang sama, yang empat bulan lalu masih berantakan oleh bom. Arah negeri itu sendiri, setelah ini, menjadi pertanyaan terbuka.

Ia titipkan nama pada putranya, jiwa dan semangat juang pada negerinya. Yang terbaring di Mashhad bukan akhir, melainkan pertanyaan: apakah tangan pewaris mampu memelihara api itu, dan apakah api masih menyala dengan cahaya yang sama.

Makassar, 4 Juli 2026