Mari menoleh sejenak ke Amerika Latin. Di sana ada yang menarik.
Pelan tapi pasti, kawasan yang selama dua generasi identik dengan Pink Tide—gelombang pemerintahan kiri yang menjanjikan kesetaraan sosial— sedang berbalik arah. Para analis menyebut fenomena ini “Gelombang Merah,” sebuah pergeseran masif menuju konservatisme kanan yang terinspirasi gerakan MAGA di Amerika Serikat.
Pemicunya bukan ideologi baru. Pemicunya adalah kelelahan.
Selama puluhan tahun, pemerintahan kiri berjanji membereskan kemiskinan, korupsi, dan ketimpangan. Yang tersisa hanyalah utang yang membengkak dan jalanan yang dikuasai kartel.
Rakyat tidak lagi mau mendengar janji-janji. Mereka menginginkan ketertiban—dan mereka bersedia memilih siapa pun yang mampu menghadirkannya.
Nayib Bukele di El Salvador adalah contoh paling dramatis. Ia membangun CECOT, penjara raksasa berkapasitas 40.000 orang, dan menangkap lebih dari 91.000 anggota geng dalam operasi yang ia sebut perang.
Angka pembunuhan anjlok lebih dari 98 persen. Tingkat persetujuan publik Bukele mencapai 85 persen. Di negara yang dulu menjadi ibu kota pembunuhan dunia, orang kini bisa berjalan di malam hari.
Harga dari semua itu adalah penangguhan hak-hak hukum dasar—sebuah taruhan yang sebagian besar warga El Salvador tampak bersedia membayarnya.
Pola serupa muncul di tempat lain. Di Bolivia, Rodrigo Paz mengakhiri hampir dua dekade dominasi partai sosialis MAS. Di Chile, José Antonio Kast meraih kemenangan terbesar dalam sejarah pemilu presidensial negara itu.
Di Argentina, Javier Milei memangkas anggaran besar-besaran untuk melunasi utang nasional yang luar biasa—dan pemilih justru memberinya mandat lebih besar dalam pemilu sela. Di Ekuador, Daniel Noboa meraih kemenangan kedua dengan selisih terbesar sejak 2013.
Yang menyatukan semua nama ini adalah satu wajah di utara: Donald Trump.
Pada 7 Maret 2026, Trump menandatangani proklamasi peluncuran Shield of the Americas—koalisi militer multinasional yang berpusat di Doral, Florida, dengan komitmen koordinasi intelijen dan operasi bersama untuk menghancurkan jaringan kartel narkoba.
Lebih selusin pemimpin konservatif hadir. Brasil, Meksiko, dan Kolombia—yang diperintah kubu kiri—tidak diundang.
Sejarah Amerika Latin selalu bergerak seperti pendulum. Kiri naik, gagal, lalu kanan mengambil alih dengan janji-janji yang berbeda namun sering berakhir serupa.
Yang membedakan gelombang ini adalah kecepatannya—dan seberapa dalam amarah rakyat terhadap para pemimpin sebelumnya telah berakar.
Ketika negara gagal menjamin keamanan warganya, orang tidak ragu menukar sebagian kebebasan dengan ketertiban. Itu tawaran yang sedang diterima jutaan orang di kawasan ini.
Pertanyaan kemudian bukan apakah gelombang ini akan datang, namun berapa lama dia akan tinggal?
Makassar, 28 April 2026






