Rabu malam, 13 Mei 2026. Senator Ronald “Bato” Dela Rosa berlari di lorong Gedung Senat Filipina, menghindari agen NBI (National Bureau of Investigation), lalu mengunci diri di ruang sidang. Lima tembakan meletus. Ketua Senat memerintahkan semua orang memadamkan lampu dan merunduk.
Begitulah malam itu dimulai.
“Persahabatan yang dibeli dengan harga, bukan dengan keagungan karakter—tidak benar-benar dimiliki. Pada saat yang tepat, ia tidak bisa dibelanjakan.” kata Machiavelli dalam The Prince. Marcos dan Duterte menamakan paketnya “Uniteam.” Mereka memenangkan pemilu 2022 bersama. Kini kita tahu persahabatan itu terbuat dari apa.
Di DPR, kubu Marcos menggerakkan pemakzulan Sara Duterte—tuduhan menggelapkan dana rahasia, kekayaan yang tak masuk akal, dan ancaman terhadap Presiden. Senat kini bertindak sebagai pengadilan.
Sara bukan lawan sembarangan. Basis Duterte di Mindanao dan Visayas solid. Ia kandidat terkuat pilpres 2028—dan itulah masalahnya. Seorang kawan yang kuliah di Davao bilang: jika Sara dibiarkan, 2028 sudah terbaca. Maka ia harus dilemahkan sekarang. Gereja Katolik Roma ikut menekan dengan cara lain, konsisten menggugat rekam jejak HAM keluarga Duterte.
Jika Sara jatuh, ia kehilangan segalanya. Itu tujuan sesungguhnya.
Di saat yang sama, ICC memperketat jeratnya. Rodrigo Duterte sudah di Den Haag sejak Maret 2025, diadili atas kejahatan terhadap kemanusiaan. April 2026, semua dakwaan dikonfirmasi.
Lalu ICC membuka surat perintah untuk Dela Rosa—dituduh bertanggung jawab atas pembunuhan sedikitnya 32 orang. Dela Rosa adalah kepala kepolisian ketika Rodrigo Duterte menjadi presiden. Surat itulah yang membuatnya berlari.
Ia bersembunyi di Senat. Militer masuk. NBI membantah menembak. Ketua Senat berteriak dinding dibobol. Belum ada korban resmi—tapi situasi masih berbahaya.
Presiden Marcos? Diam. Beberapa hari sebelumnya ia menjadi tuan rumah KTT ASEAN ke-48 di Cebu, berjabat tangan dengan Prabowo Subianto. Sementara gedung parlemennya sendiri gelap dan panik.
Machiavelli juga mengingatkan bahwa manusia bergerak dari satu ambisi ke ambisi berikutnya: mula-mula melindungi diri, lalu menyerang. Marcos tampaknya sudah melewati fase pertama.
Namun, ini bukan cuma soal Filipina. Selama ada dua pihak sama-sama kuat, politik adalah transaksi. Tapi begitu salah satu mulai goyah, aturan berubah. Ia bukan lagi mitra—ia mangsa. Politik berubah menjadi perburuan.
Dan apapun bisa jadi senjata, termasuk hukum.
Makassar, 14 Mei 2026
Sudah pernah diterbitkan di laman Facebok penulis






