Etalase Politik Duda Premium

Oleh Adi Adnan*

Esai19 Views

Pagi ini, saya tergelak membaca judul berita di salah satu media lokal. Seorang pria yang sedang disorot kamera, dengan lantang mengakui dirinya sebagai “duda premium“.

Ada dua hal yang memicu tawa saya. Pertama, kata premium langsung menyeret ingatan saya pada antrean bahan bakar minyak bersubsidi di masa lalu. Refleks spontan saya: ini bensin apa manusia, Bro?

Kedua, dalam tata bahasa maupun logika pasar, kata premium nyaris tak pernah merujuk pada makhluk hidup. Kita mengenal beras premium, perumahan premium, hingga pemakaman premium. Semuanya adalah komoditas. Benda mati. Tapi tiba-tiba, ada manusia yang melabeli dirinya sendiri dengan terminologi etalase toko.

Kolom komentar pun langsung ramai oleh candaan para netizen. Ada yang menyahut, “Saya duda Pertamax Turbo,” merujuk pada varian BBM lain. Ada yang menyebutnya “bura’ne lalang kaca” (lelaki dalam kaca), seolah barang mewah yang dipajang di etalase mal.

Yang paling lucu adalah komentar singkat, “Saya malu”—entah karena malu melihatnya, atau malu menjadi pria yang tak punya label premium.

Namun, di balik tawa itu, pisau analitis saya mulai bekerja. Mengapa di era modern ini, terminologi kelas komoditas begitu mudahnya menempel pada identitas diri kita?

Jika kita membuka KBBI, kata premium memang bisa berarti kualitas unggul, hadiah, atau bayaran.

Namun, paradoks menggelitik muncul ketika sang politisi menyambung kalimat “saya ini duda premium” dengan klaim “saya ini rakyat jelata”. Bagaimana mungkin sesuatu yang diposisikan sebagai kelas unggul, dalam napas yang sama, didefinisikan sebagai jelata?

Fenomena ini mencerminkan kelihaian—dan sekaligus kemunduran—gaya komunikasi publik kita. Ruang perdebatan yang seharusnya tegang dan sarat substansi, seketika diredam energinya oleh humor semi-komoditas.

Kita sedang menyaksikan “politik etalase”, di mana persoalan etika dan integritas ditarik paksa masuk ke dalam logika pasar. Di pasar, yang utama adalah kemasan, daya tarik, dan label harga. Nilai substansi perlahan bergeser menjadi sekadar riuh popularitas di kolom komentar.

Kecenderungan melabeli diri dengan istilah-istilah ekonomi ini sejatinya adalah alarm halus atas menyusutnya cara kita menghargai kemanusiaan. Manusia bukanlah bensin yang punya varian performa, bukan pula beras yang dipilah berdasarkan kualitas bijinya.

Kehormatan seorang individu diuji oleh satu hal yang tak mengenal kasta ekonomi: integritas. Ketika integritas itu dipertanyakan oleh publik, ia tidak bisa diselesaikan hanya dengan klaim kelas kosmetik.

Pada akhirnya, kata premium mungkin akan terus bernasib malang—berpindah dari tangki BBM, mampir ke karung beras, hingga tersesat dalam pusaran panggung politik kita.

Kita sering lupa bahwa di panggung kehidupan yang fana ini, label terbaik tidak pernah dicetak oleh mesin pabrik atau dirancang oleh strategi citra.

Kemuliaan sejati seorang manusia tidak terletak pada seberapa berkilau ia dipajang di etalase duniawi, melainkan pada kebersihan rekam jejak dan ketulusan jiwa yang tetap terjaga, justru ketika ia sedang diuji di bawah terik badai kehidupan.